Pranala.co, SAMARINDA — Dunia transportasi Kalimantan Timur (Kaltim) pada September 2025 memperlihatkan arah yang berlawanan. Di udara, jumlah penumpang pesawat menurun. Tapi di laut, volume barang melonjak tajam.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, penumpang angkutan udara domestik turun 2,20 persen, dari 224.170 penumpang pada Agustus menjadi 219.244 penumpang pada September 2025. Sedangkan penumpang internasional merosot lebih dalam, 21,88 persen, menjadi hanya 4.324 orang.
“Penurunan ini terutama karena berkurangnya jumlah penumpang di beberapa bandara di Kalimantan Timur,” kata Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, Rabu (5/11/2025).
Bandara Sepinggan Masih Jadi Tulang Punggung
Yusniar menyebut, Bandara Melalan Kutai Barat turun 18,44 persen, APT Pranoto Samarinda minus 6,76 persen, dan Sepinggan Balikpapan berkurang 2,76 persen. Namun tidak semua bandara mengalami tren negatif.
Bandara Kalimarau Berau justru tumbuh 17,48 persen, dan Bandara Datah Dawai Mahakam Ulu naik 1,39 persen. Hingga kini, Bandara Sepinggan Balikpapan tetap mendominasi transportasi udara Kaltim dengan pangsa pasar mencapai 75,29 persen, atau 165.062 penumpang domestik.
Menariknya, sepanjang Januari–September 2025, penumpang internasional justru melonjak 25,98 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai 48.644 orang. Sebaliknya, penumpang domestik turun 4 persen menjadi 2,09 juta orang.
Laut Menguat: Barang Naik, Penumpang Turun
Di sisi lain, sektor laut menunjukkan dinamika berbeda. Jumlah penumpang kapal dalam negeri turun 1,66 persen, menjadi 37.875 orang.
Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya aktivitas di Pelabuhan Semayang Balikpapan sebesar 3,52 persen. Namun, Pelabuhan Bontang Lhok Tuan dan Samarinda justru naik, masing-masing 2,25 persen dan 1,08 persen.
“Secara bulanan memang menurun, tapi kalau dilihat dari Januari sampai September 2025, penumpang laut justru naik 23,53 persen dibanding tahun lalu,” ujar Yusniar.
Lonjakan Besar di Kuala Samboja
Yang paling menonjol adalah volume barang angkutan laut. Pada September 2025, tercatat 9,39 juta ton kargo, naik 5,24 persen dibanding Agustus.
Pelabuhan Kuala Samboja menjadi juara dengan kontribusi 34,89 persen atau 3,27 juta ton. Disusul Sangkulirang (17,79%) dan Tanjung Redeb (16,81%).
Kenaikan tertinggi terjadi di Pelabuhan Kuala Samboja yang melesat 31,70 persen, diikuti Samarinda (19,61%), Semayang (11,26%), dan Sangatta (0,95%). Sebaliknya, Pelabuhan Kariangau anjlok tajam 41,79 persen.
Tren Tahunan Masih Turun
Namun secara kumulatif, dari Januari hingga September 2025, total barang yang diangkut mencapai 79,52 juta ton, turun tipis 0,48 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
“Penurunan terbesar terjadi di Pelabuhan Tanjung Santan (50,75%), Kariangau (43,65%), dan Sangatta (18,75%),” jelas Yusniar.
Meski masih ada kontraksi di beberapa titik, BPS menilai transportasi laut menunjukkan ketahanan lebih baik dibanding udara, terutama karena peningkatan aktivitas logistik industri dan perdagangan antardaerah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










