Tenun Ikat Sintang, Kerajinan Khas Kalimantan Hanya Boleh Dikerjakan Perempuan

  • Whatsapp
Perempuan yang sedang menenun © Ainun Jamilah

KABUPATEN Sintang di Kalimantan Barat tak hanya terkenal dengan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kabupaten ini ternyata juga terkenal dengan kerajinan tenun ikat yang mendunia. Bahkan kain tenun ikat Sintang ini juga telah dikenal di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Italia serta beberapa negara Eropa lainnya.

Kain ini dikenal mempunyai kekhasan dalam motif, kehalusan, dan cara pembuatan yang tetap mempertahankan teknik tradisional. Dalam berbagai lomba kain tenun, kain tenun Sintang kerap menjadi juara. Bahkan dalam sebuah lomba kain tenun se-Provinsi Kalimantan Barat, kain tenun Sintang menyabet semua gelar juara.

Bacaan Lainnya

Kain tenun ikat sintang merupakan jenis kain tenun ikat yang hasilkan masyarakat suku Dayak dari Kalimantan Barat. Tepatnya, berasal dari dua daerah kecil di Kabupaten Sintang, Ensaid Panjang dan Bukit Kelam. Dalam sistem kebudayaan leluhur Dayak, tekstil berperan penting dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat.

Suku Dayak membuat tenunan dengan motif yang indah untuk baju, rok, cawat dan selimut. Terdapat perbedaan dekorasi teknik dalam pembuatan kain tenun khas suku Dayak Kabupaten Sintang yaitu ikat, sungkit, pilin, dan idan.

Menenun adalah proses pembuatan barang-barang tenun (kain) dari persilangan dua set benang dengan cara memasuk-masukkan benang pakan secara melintang pada benang-benang lungsin (benang lusi). Bagi para perempuan pengerajin tenun ikat yang ikut terlibat di dalamnya dan pandangan mitologi warga setempat, bahwa adanya larangan dan pantangan yang tidak boleh dilakukan, yakni kaum laki-laki tidak boleh menenun.

Mitos yang dipercayai warga setempat yakni, laki-laki yang menenun akan mengalami kemandulan dan juga akan mengalami sakit di seluruh bagian badan. Oleh karena itu, dalam mengerjakan tenun ikat dari awal hingga proses akhir, hanya dapat dilakukan oleh perempuan saja untuk pengerjaannya. Di sisi lain juga pekerjaan perempuan sangat bagus, rapi dan sangat teliti untuk mengerjakan tiap helai benang yang ditenun.

Argumen tentang kemandulan yang dialami oleh kaum laki-laki inilah yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat suku Dayak Desa di rumah betang Ensaid Panjang sebagai salah satu hukuman leluhur yang akan benar-benar terjadi dan ini merupakan hanya suatu pandangan mitologi penduduk setempat.

Pekerjaan sebagai penenun ini dilakukan oleh kurang lebih sekitar 40 orang perempuan yang berusia 9-80 tahun di Rumah Betang Ensaid Panjang. Pekerjaan ini dilakukan karena harga kain tenun untuk saat ini masih sangat menjanjikan, karena harga penjualan kain tenun untuk ukuran kecil seperti syal dihargai Rp 50.000 dan kain panjang dibanderol Rp 300.000 – 600.000 bahkan jutaan rupiah. Proses pengerjaan kain tenun untuk kain yang berukuran besar akan memakan waktu sekitar 1-2 bulan bahkan bisa sampai 4 bulan.

Pembuatan kain tenun ikat Sintang menggunakan kapas

Proses pembuatan kain tenun ikat Sintang menggunakan bahan baku berupa kapas kemudian dipintal menjadi benang, lalu benang dibuat pola dengan proses ikat, serta setelah itu benang diwarnai. Untuk kapas sendiri hanya sekitar kurang lebih hanya lima kepala keluarga yang menanam, sehingga untuk mendapatkan kapas dalam jumlah banyak bisa membeli ke Kobus, yakni sebuah yayasan yang menyediakan berbagai bahan baku tenun ikat seperti benang, pewarna tekstil dan juga ikut serta membantu pemasaran tenun ikat.

Adapun tahapan dalam menenun terdiri dari ngulayan, menyusun benang, negi (proses sebelum mengikat), mulai mengikat, dan memberi warna menggunakan benang atau cat warna.Terdapat empat macam tenun ikat berdasarkan tingkat serta kesulitannya yaitu tenun kebat, sidan, songket dan plin slam. Tenun kebat memiliki ciri motif berbentuk bunga, manusia serta naga. Kain tenun sidan bermotif bunga dan orang.

Sedangkan untuk proses pewarnaan tenun ikat, ada yang menggunakan pewarna kimia dan pewarna alam. Pewarna alam yang digunakan berasal dari akar pohon, daun-daunan, kulit kayu serta tumbuhan. Alat pemintal dan penenun yang dipakai sangat sederhana, tidak seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang banyak dipakai di berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan teknik pewarnaan jenis kain tenun ikat Dayak dapat dibagi menjadi dua macam yaitu, tenun ikat
menggunakan pewarnaan kimia (bahan kimia) dan tenun ikat menggunakan pewarnaan alami (tumbuh-tumbuhan). Dalam proses pewarnaan kain tenun ikat biasanya seorang penenun suku dayak harus mengenakan kain adat berbentuk tating untuk menghormati leluhur atau nenek moyang.

Banyak motif tenun ikat yang dibuat masyarakat Dayak. Motif paling banyak dibuat adalah motif geometris. Beberapa motif adalah motif sakral dan disucikan, dimana tidak sembarang orang boleh membuatnya. Hanya orang tua yang sudah banyak berpengalaman yang boleh membuat motif tersebut.

Konon jika terjadi kesalahan dalam membuat motif tersebut dapat mengakibatkan kematian. Motif yang disakralkan biasanya yang menggambarkan mahluk hidup seperti manusia, naga, dan buaya. Dipercaya motif tersebut juga harus diberi “makan”, yakni melakukan ritual khusus dalam proses pembuatannya.

Berdasarkan hasil pengerjaan, kain tenun ikat sintang terbagi menjadi dua jenis yakni kebab dan kumbu. Tenun kebad merpakan jenis kain tenun yang berukuran agak kecil dan hanya dibentuk menjadi busana wanita dan anak-anak. Sedangkan tenun ikat kumbu merupakan kain tenu ikat yang berukuran lebih besar sehingga dapat dibentuk menjadi busana baik pria, wanita maupun anak-anak.

 

[js|red]

Pos terkait