ADA perubahan pelan yang sedang terjadi di Kalimantan Timur (Kaltim). Semakin sedikit warga yang menikah, tetapi perceraian kembali bertambah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim 2025 yang dirilis Februari 2026 menunjukkan jumlah pernikahan di Kaltim terus menurun selama tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 22.449 pernikahan. Angka itu turun menjadi 20.940 pada 2024 dan kembali menyusut menjadi 20.645 pernikahan pada 2025.
Di saat sama, angka perceraian justru bergerak ke arah berbeda. Setelah sempat turun tajam pada 2024, kasus perceraian kembali meningkat pada 2025.
Tercatat ada 8.241 perceraian pada 2023. Jumlah itu turun menjadi 6.216 kasus pada 2024, namun kembali naik menjadi 6.972 kasus sepanjang 2025.
Tren ini paling terlihat di kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan. Dua daerah dengan aktivitas ekonomi tertinggi di Kaltim itu juga menjadi penyumbang angka perceraian terbesar.
Samarinda menempati posisi pertama dengan 1.523 kasus perceraian pada 2025. Angka itu nyaris tak berubah dibanding 2024 yang mencapai 1.521 kasus. Meski begitu, jumlah tersebut masih lebih rendah dibanding 2023 yang sempat menyentuh 2.155 kasus.
Balikpapan berada di posisi kedua dengan 1.495 perceraian pada 2025. Kota jasa dan industri itu sejak lama dikenal memiliki mobilitas kerja tinggi serta ritme hidup urban yang lebih cepat dibanding daerah lain di Kaltim.
Besarnya tekanan ekonomi rumah tangga, pola kerja, hingga perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan kerap disebut menjadi faktor yang memengaruhi stabilitas keluarga di kota besar. Namun data BPS sendiri tidak menjelaskan penyebab spesifik perceraian tersebut.
Menariknya, Samarinda juga menjadi daerah dengan jumlah pernikahan tertinggi di Kaltim. Sepanjang 2025, ibu kota provinsi itu mencatat 4.650 pernikahan.
Meski masih tertinggi, jumlah tersebut terus menurun dibanding dua tahun sebelumnya. Pada 2023, jumlah pernikahan di Samarinda mencapai 5.145 kasus, lalu turun menjadi 4.919 pada 2024 sebelum kembali menurun pada 2025.
Kutai Kartanegara berada di posisi kedua dengan 4.263 pernikahan pada 2025, disusul Balikpapan sebanyak 3.509 pernikahan. Kutai Timur mencatat 2.251 pernikahan, sedangkan Berau mencapai 1.677 pernikahan.
Penurunan jumlah pernikahan juga tampak hampir merata di sejumlah daerah. Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara, hingga Balikpapan mengalami tren penurunan dibanding 2023.
Sebaliknya, beberapa wilayah seperti Kutai Timur dan Berau justru mencatat sedikit kenaikan dibanding 2024, seiring pertumbuhan kawasan industri, perkebunan, dan permukiman baru.
Sementara itu, Mahakam Ulu tetap menjadi daerah dengan angka pernikahan paling sedikit di Kaltim. Pada 2025 hanya tercatat 41 pernikahan dan enam kasus perceraian. Jumlah tersebut sejalan dengan populasi penduduk yang memang paling kecil di provinsi ini.
BPS juga memberi catatan khusus pada data perceraian Mahakam Ulu tahun 2024 yang tercatat mencapai 1.397 kasus. Angka itu dianggap tidak lazim karena berbeda sangat jauh dibanding tahun lainnya, termasuk 2025 yang hanya mencatat enam kasus perceraian. [RED]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















