SIAPA sangka, kota terkaya di Kalimantan saat ini justru lahir dari sebuah wilayah mini yang nyaris tidak memiliki kebun sawit sendiri. Dengan luas wilayah daratan yang hanya 147 kilometer persegi, Kota Bontang di Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat memiliki PDRB per kapita fantastis mencapai Rp371,19 juta.
Kini, kota berpenduduk 194 ribu jiwa ini siap melompat lebih jauh. Mengandalkan posisi strategisnya yang dikepung jutaan hektare kebun kelapa sawit milik daerah tetangga, Bontang meluncurkan proyek hilirisasi ambisius senilai Rp5,6 triliun untuk mengguncang pasar oleokimia global.
Secara administratif, Bontang hanya memiliki 51 hektare lahan sawit dengan produksi mini 159 ton per tahun. Angka ini jelas tidak ada apa-apanya bagi sebuah kota industri.
Namun, pemerintah daerah setempat enggan menyerah pada keadaan. Mereka melihat peluang emas karena Bontang dikelilingi oleh 1,48 juta hektare perkebunan sawit milik kabupaten tetangga di Kaltim.
Memanfaatkan limpahan bahan baku tersebut, Pemkot Bontang langsung bergerak cepat menyusun dokumen proyek investasi yang matang. Strategi ini dikemas dalam skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) untuk memikat investor kakap.
Tidak tanggung-tanggung, ada dua proyek raksasa yang kini resmi ditawarkan ke pasar domestik maupun global. Proyek pertama adalah industri fatty amine (amina lemak) senilai Rp1,88 triliun dengan kapasitas produksi 20 ribu ton per tahun.
“Proyek ini akan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri,” ujar Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur.
Sedangkan proyek kedua adalah pembangunan pabrik fatty acid (asam lemak) dengan nilai investasi mencapai Rp3,77 triliun. Kedua pabrik manufaktur oleokimia ini direncanakan berdiri di Kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) yang sudah matang secara logistik dan energi.
Langkah ini diambil karena pasar global sedang lapar. Permintaan dunia terhadap produk turunan sawit ini diproyeksi tumbuh hingga 7 persen per tahun, terutama untuk bahan baku detergen, kosmetik, hingga produk perawatan rumah tangga di Asia dan Eropa.
Ambisinya menjadi pusat oleokimia baru bukan sekadar hisapan jempol. Sepanjang tahun 2025 saja, investasi yang masuk ke Bontang telah menembus Rp3,08 triliun, di mana Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi hingga 85,96 persen.
Memasuki 2026, tren positif ini terus melaju kencang. Pada triwulan pertama (Januari-Maret) 2026, Bontang sudah berhasil mengantongi investasi sebesar Rp796,78 miliar, atau sekitar 23,25 persen dari target tahunan Rp3,42 triliun.
Dampak nyata dari derasnya modal yang masuk ini langsung dirasakan masyarakat akar rumput. Hanya dalam waktu tiga bulan pertama di tahun ini, aktivitas industri di Bontang berhasil menyerap 939 tenaga kerja baru. (*)



















