GELIAT ekonomi di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan sinyal yang semakin benderang pada awal tahun ini. Sektor perbankan bergerak agresif menyalurkan pembiayaan demi menopang roda bisnis di Bumi Etam.
Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan Kaltim pada triwulan I 2026 melesat tumbuh 9,46 persen. Angka ini melonjak tajam dibanding triwulan sebelumnya yang hanya mandek di angka 3,39 persen.
Hebatnya lagi, performa finansial Kaltim kali ini sukses mempecundangi rata-rata nasional yang tumbuh di angka 8,93 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa moncernya angka kredit ini tak lepas dari peran raksasa sektor pertambangan. Industri keruk ini rupanya masih menjadi tulang punggung utama struktur ekonomi daerah.
“Meskipun aktivitas produksi dan ekspor komoditas tambang sempat mengalami penyesuaian, kebutuhan pembiayaan untuk operasional, investasi, hingga pengelolaan modal kerja tetap terjaga tinggi,” ujar Jajang, Jumat, 3 Juli 2026.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa para pelaku usaha di Kaltim masih sangat optimistis melakukan ekspansi dan menjaga napas bisnis mereka.
Jika dibedah berdasarkan jenis penggunaannya, lonjakan paling fantastis justru datang dari kredit modal kerja. Sektor ini meroket hingga 18,14 persen, melompat jauh dari triwulan sebelumnya yang hanya mencatat pertumbuhan ecek-ecek di angka 3,02 persen.
Secara spasial, geliat perputaran uang terbesar masih berputar di dua kota utama. Penyaluran kredit tetap terkonsentrasi di Kota Samarinda dan Balikpapan sebagai pusat gravitasi ekonomi dan bisnis daerah.
Kendati kredit mengucur deras, perbankan di Kaltim tergolong sangat sehat dan jauh dari kata ringkih. Manajemen risiko yang ketat membuat kualitas kredit tetap terjaga aman.
Catatan Redaksi: Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di Kaltim terpantau parkir manis di bawah ambang batas aman 5 persen. Artinya, perbankan lokal sangat lincah namun tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.
Kabar baiknya, perbankan tidak perlu pusing kehabisan amunisi. Likuiditas di daerah ini tergolong sangat tebal karena masyarakat dan korporasi rajin menabung.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Kaltim juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pasokan dana segar ini mengalir deras dari sektor dunia usaha, rumah tangga, hingga lonjakan komponen giro milik pemerintah daerah yang mulai aktif mencairkan anggaran di awal tahun.
Menariknya, perbankan syariah juga mulai mendapat tempat khusus di hati warga Kaltim. Sektor keuangan berbasis syariah ini terus mencatatkan pertumbuhan positif.
Tren ini menjadi modal berharga bagi perluasan akses pembiayaan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Kaltim ke depan. Roda ekonomi Kaltim kini melaju lebih cepat, ditopang oleh fondasi finansial yang sehat dan kuat. (*)


















