KABAR baik bagi para petani di Jawa Timur yang tengah bersiap menghadapi musim tanam. PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) memberikan garansi bahwa pasokan pupuk urea bersubsidi di wilayah tersebut berada dalam kondisi yang sangat aman.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Gusrizal, turun langsung mengecek kondisi lapangan dengan mendatangi sejumlah gudang penyangga di wilayah Probolinggo, Jember, hingga Banyuwangi.
Langkah jemput bola ini sengaja Gusrizal lakukan guna memastikan rantai pasok pupuk bersubsidi berjalan tanpa sumbatan. Targetnya jelas: petani harus menerima pupuk secara tepat waktu dan tepat sasaran demi menjaga produktivitas lahan mereka.
“Kami terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi stok serta kelancaran distribusi hingga tingkat kios,” ujar Gusrizal saat meninjau gudang penyangga.
Berdasarkan data ril di lapangan, kekhawatiran akan kelangkaan pupuk tampaknya bisa ditepis. Total stok aktual pupuk urea bersubsidi yang dikelola perusahaan di Jawa Timur menembus angka 79.740 ton.
Angka ini setara dengan 213 persen dari ketentuan minimum (safety stock) pemerintah yang berada di angka 37.360 ton. Artinya, cadangan pupuk di gudang saat ini melimpah hingga lebih dari dua kali lipat dari batas aman.
Kesiapan pasokan ini tersebar merata di berbagai daerah yang menjadi rayon distribusi utama Pupuk Kaltim, dengan total pasokan lini tersalurkan mencapai 38.486 ton.
Berikut data sebaran stok pupuk urea bersubsidi di beberapa wilayah lumbung pangan Jawa Timur:
- Kabupaten Banyuwangi: 27.729 ton
- Kabupaten Jember: 4.846 ton
- Kabupaten Situbondo: 2.007 ton
- Kabupaten Lumajang: 1.560 ton
- Kabupaten Probolinggo: 1.492 ton
- Kabupaten Bondowoso: 851 ton
Gusrizal menegaskan, melimpahnya stok ini menjadi bukti kesiapan perusahaan dalam merespons lonjakan permintaan yang biasa terjadi ketika musim tanam dimulai. Pertanian yang sukses, menurutnya, berawal dari kepastian pasokan pupuk yang andal.
Meski stok melimpah, Pupuk Kaltim enggan jemawa. Manajemen menyadari tantangan terbesar pupuk subsidi sering kali berada pada jalur distribusi yang rawan sumbatan.
Oleh karena itu, sistem monitoring berkala kini semakin diperketat. Langkah preventif ini diambil agar potensi hambatan atau kekurangan stok di tingkat paling bawah bisa diantisipasi lebih dini.
Efektivitas di lapangan juga digenjot lewat penguatan koordinasi. Produsen, distributor, pemerintah daerah, hingga kios resmi sebagai ujung tombak pelayanan dipastikan bergerak dalam satu irama yang sama. (*)

















