Selepas Rasulullah SAW

  • Whatsapp
Suriadi Said, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bontang.

DAPATKAH seorang pemimpin di zaman ini seperti dia? Dalam riwayat, dikisahkan bagiaman dia hidup. Rumahnya batu bata tak dibakar. Atapnya dahan pohon palma. Ia menambal bajunya sendiri. Atau memperbaiki alas kakinya yang rusak. Dia memasang tungku di dapurnya, menyapu lantai rumahnya. Ia memerah susu dari domba dengan tanganya sendiri. Dan hanya memakan apa yang mudah.

Dia mengunjungi yang sakit. Menyertai iringan jenazah siapa pun yang wafat. Ia menerima undangan seorang hamba untuk bersantap, dan tak minta bantuan orang lain bila dia kuat melakukan kerja itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Dapatkah seorang pemimpin di zaman ini seperti dia? Orang Islam meyakini Muhammad SAW adalah nabi terakhir.

Zaman kita sekarang memang nampaknya telah tidak memungkin adanya nabi-nabi baru. Tokoh yang sangat mulia pun akan dianalisa begitu rupa. Hingga akhirnya, bisa tampil dengan motif yang kabur: suatu pernyataan frustasi masa kecil atau sublimasi dari hasrat yang tak sepenuhnya disadari.

Jika tidak, ia hanya akan muncul sebagai segala sesuatu keadaan sosial. Maka hanya mereka yang naif, yang sangat kangen akan pahlawan – serta para remaja yang bergairah – yang masih benar-benar “mabuk” akan seorang idola.

Mahatma Gandhi, atau Madame Blavatsky, Mao ataupun Ayatullah Khomeini: mereka semua punya pengikut dan pemuja yang banyak. Tapi akhirnya, terbatas. Mereka toh tak lagi hidup dalam “The Age of Faith”.

Kini kita mempersoalkan sendiri kemampuan kita untuk menjawab segala soal yang muncul. Bukan Cuma wibawa kepimpinan social dan rohani yang mudah diguncang. Institusi ajaran juga merasa perlu hidup berhati-hati, sejak bumi dan matahari ditemukan lain tanpa Bahasa kitab suci.

Pada 24 Maret 1543, Copernicus membaca judul buku pertama tentang teorinya, beberapa saat sebelum meninggal. Konon, dia pernah ragu untuk menerbitkan teorinya. Ia tak ingin secara terbuka bertentangan dengan Gereja. Dia pernah berpikir tidaklah lebih baik dia hanya menyiarkan “Rahasia filsafat tidak dalam bentuk tulisan, melainkan lisan”. Tapi ketika ia akhirnya membaca judul buku itu, ia senyum, lalu wafat.

Dan segala “rahasia filsafat” pun kian lama mudah tersebar. Perdebatan meluas, dan makin tidak mudah diputuskan.

Tak mengherankan, jika ada yang melihat perkembangan ini sebagai kemunduran belaka. Jika bandingannya adalah masa yang lebih bermukjizat dan menjamin ketentraman batin, memang zaman ini terasa lebih risau. **

 

Ditulis: Suriadi Said
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI Bontang)

Pos terkait