Pranala.co, BONTANG – Satu kursi strategis di lingkup Pemerintah Kota Bontang kini mulai hangat diperbincangkan. Jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) akan segera kosong seiring berakhirnya masa tugas Aji Erlynawati pada 1 November 2025 mendatang.
Posisi tertinggi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Bontang ini disebut-sebut mulai diperebutkan sejumlah pejabat eselon II. Nama-nama pun mulai bermunculan, meski belum ada yang resmi mengaku siap maju.
Menanggapi hal itu, Aji Erlynawati memilih tenang. Ia menyebut dinamika tersebut sebagai tanda baik.
“Saya melihat itu hal positif. Artinya, regenerasi pejabat eselon II di Bontang berjalan dengan baik,” ujar Aji saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Selasa (7/10).
Menurut Aji, jabatan Sekda tidak bisa diukur hanya dari pangkat atau golongan. Ada tanggung jawab besar yang melekat di dalamnya.
Ia menjelaskan, calon Sekda bukan hanya harus berstatus eselon II, tetapi juga memenuhi sejumlah kriteria penting. Di antaranya usia di bawah 56 tahun, memiliki integritas tinggi, serta mampu menjadi figur teladan bagi seluruh ASN.
“Sekda bukan hanya administrator. Ia harus bisa menginspirasi seluruh ASN untuk bekerja dengan hati dan semangat membangun Bontang,” tegasnya.
Aji menilai tantangan Bontang ke depan akan semakin kompleks. Pemerintah daerah dituntut lebih tanggap terhadap isu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Karena itu, sosok Sekda yang ideal adalah mereka yang mampu berkolaborasi lintas sektor dan berpikir strategis.
“Kalau penerus Sekda nanti profesional, berjiwa melayani, dan punya nilai-nilai itu, saya yakin semua tanggung jawab bisa dijalankan dengan baik,” katanya.
Lalu siapa calon kuat pengganti dirinya? Aji enggan menyebut nama. Ia menegaskan, seluruh pejabat eselon II di Pemkot Bontang pada dasarnya memenuhi syarat untuk maju.
“Prosesnya nanti lewat lelang jabatan. Timnya dari provinsi, dan pelaksanaannya tergantung Wali Kota,” ujarnya singkat.
Bagi Aji, yang terpenting bukan siapa yang menggantikan, melainkan bagaimana jabatan itu dijalankan dengan penuh dedikasi.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah pemimpin birokrasi yang bekerja tulus, profesional, dan bisa menjaga kepercayaan masyarakat,” tutupnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















