Pranala.co, BONTANG — Langit malam di pusat Kota Bontang, Sabtu (25/10/2025), berubah menjadi panggung warna-warni. Ratusan warga berjejer di tepi jalan, menunggu arak-arakan Bontang City Carnival (BCC) 2025 yang setiap tahun jadi kebanggaan kota industri ini.
Namun, perhatian malam itu tertuju pada satu peserta: Kelurahan Satimpo. Tampil dengan gaya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Satimpo bukan hanya memamerkan keindahan kostum dan koreografi, tapi juga menghadirkan pesan budaya yang kuat dan sarat makna.
Tahun ini, Satimpo menggandeng dua paguyuban besar: Paguyuban Warga Sukoharjo Makmur (PAGAR Sukma) dan Paguyuban Warga Ponorogo (Pawargo). Kolaborasi itu melahirkan penampilan yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga wujud nyata pelestarian budaya nasional.
Lurah Satimpo, Maryono, menyebut kolaborasi ini sebagai implementasi langsung dari program pelestarian budaya lokal dan nasional yang sedang digalakkan di wilayahnya.
“Yang membedakan BCC tahun ini dengan sebelumnya adalah kolaborasi kami dengan paguyuban dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2025 yang jatuh pada 7 November nanti,” jelas Maryono.
“Wayang adalah cerminan budaya dan moralitas bangsa. Kami ingin memperkenalkan kembali nilai luhur itu kepada generasi muda,” tambahnya.
Meski dihadapkan pada jadwal padat—termasuk persiapan mengikuti pemilihan Kelurahan Teladan Tingkat Nasional—tim Satimpo tak kehilangan semangat.
Maryono menyebut, seluruh anggota tim, termasuk warga dan paguyuban, bekerja siang malam demi memberikan penampilan terbaik di panggung BCC.
“Semangat kebersamaan jadi bahan bakar kami. Bukan sekadar tampil, tapi membawa pesan budaya yang bermakna,” ujarnya.
Dalam kategori Pawai Budaya, Satimpo menampilkan dua karya seni yang menggugah. Pertama, Tari Wayang Orang bertema Perang Mahabharata.
Pertunjukan ini menggambarkan kisah gugurnya Abimanyu di medan perang Baratayudha, disertai lantunan “Supah Pralaya”, doa tentang keseimbangan antara cinta, keberanian, dan pengorbanan.
Gerak tari yang gagah namun lembut itu memikat penonton. Pesan moralnya jelas: keberanian sejati tumbuh dari hati yang tulus.
Tak kalah menawan, kolaborasi dengan Pawargo Ponorogo menghadirkan Tari Jatilan Reog Ponorogo. Adegan demi adegan memperlihatkan pasukan berkuda yang gagah berani menyerang Kerajaan Kediri, lengkap dengan karakter Singa Barong dan Bujangganong.
Kisahnya mengangkat perjuangan Prabu Klono Sewandono dalam usahanya meminang Dewi Songgolangit — sebuah legenda klasik yang mengandung nilai keberanian dan ketulusan hati.
Bagi Satimpo, keikutsertaan dalam BCC 2025 juga menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-26 Kota Bontang. Lewat seni dan budaya, mereka ingin meneguhkan kembali semangat persatuan.
“Pada momentum HUT ke-26 Kota Bontang, kami ingin terus berperan memperkuat semangat kebersamaan dan melestarikan budaya nasional,” pungkas Maryono. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










