Pranala.co, BONTANG – Penindakan narkoba di Bontang kembali mencatat hasil besar. Empat pengedar sabu ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polres Bontang. Namun satu sosok masih buron. Ia disebut-sebut sebagai “Si Bos”. Sang pengendali jaringan.
Mereka yang diamankan berinisial R (22), S (45), SP (35), dan DI (35). Umur berbeda. Latar belakang berbeda. Tapi satu tujuan: mencari uang cepat lewat sabu. Padahal baru dua bulan terjun, jaringan ini sudah rapi. Bergerak lintas wilayah. Dari Bontang hingga Kutai Timur.
Kapolres Bontang AKBP Widho Anriani menyebut jaringan ini dikendalikan seseorang yang belum tertangkap. “Pelaku menyebut sosok yang dikenal dengan julukan Si Bos. Ia diduga pemasok utama,” ujarnya. Ia didampingi Kasat Resnarkoba AKP Richard Nixon saat konferensi pers, Rabu (5/11/2025).
Para pelaku ternyata sangat berhati-hati. Mereka menjual sabu hanya kepada pembeli yang dikenal. Sistem kepercayaan dibangun pelan-pelan. “Mereka menjual perlahan. Agar pembeli percaya. Lalu mengenalkan ke orang lain,” kata Richard.
Transaksi dilakukan dengan dua cara. Sistem jejak—barang diletakkan di titik tertentu. Atau tatap muka langsung. Satu paket kecil sabu dijual sekitar Rp600 ribu.
Awal Terungkap: Laporan Warga
Kasus ini bermula dari laporan warga. Ada aktivitas mencurigakan di sebuah rumah kontrakan di Gunung Telihan, Bontang Barat. Polisi bergerak. Rumah itu digerebek. Dari tangan R, ditemukan tiga bungkus sabu seberat 1,52 gram dan alat hisap.
R mengaku mendapat sabu dari SP lewat perantara S. Informasi itu mengarahkan polisi ke Desa Martadinata, Teluk Pandan, Kutai Timur. Keduanya langsung diciduk.
Dari SP, polisi menyita 39 paket sabu seberat 24,79 gram, timbangan digital, uang tunai Rp3,6 juta, dan dua ponsel. Dari S, polisi menemukan ponsel yang dipakai untuk berkomunikasi dengan SP.
Satu Penghubung, Satu Bos Besar
Pengembangan berlanjut. Polisi menangkap DI di Jalan Kapal Pinisi 7, Loktuan, Bontang Utara. DI diduga menjadi penghubung ke “Si Bos”. Bandar besar yang tidak pernah muncul di permukaan.
Petugas menemukan banyak plastik klip kosong di rumah DI. Indikasi kuat bahwa bisnis ini bukan coba-coba. “Melihat banyaknya perlengkapan, jelas mereka sudah merencanakan ini,” kata Richard.
Polisi kini fokus memburu “Si Bos”. Jaringan ini diduga memiliki wilayah operasi yang lebih luas dari yang terlihat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa narkoba bisa digerakkan siapa saja. Bukan hanya sindikat besar. Kadang justru orang dekat. “Jangan tergoda. Sekali masuk lingkaran ini, sulit keluar. Laporkan jika melihat aktivitas mencurigakan,” pesan Richard.
Kapolres Widho menegaskan komitmen Polres Bontang. Mereka akan mempersempit ruang gerak jaringan narkoba. Bukan hanya dengan penindakan. Tapi juga pencegahan.
“Memberantas narkoba bukan hanya soal menangkap pelaku. Ini tentang menyelamatkan masa depan anak-anak kita,” tegasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami














