Pranala.co, SAMARINDA — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda memperketat kesiagaan personel menjelang masa mudik Lebaran 2026. Langkah ini diambil untuk menjamin keamanan wilayah yang ditinggal pemiliknya selama libur panjang.
Fokus utama petugas kini bergeser dari sekadar penanganan kebakaran menjadi upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Tujuannya, masyarakat lebih teliti sebelum mengunci pintu rumah untuk pulang ke kampung halaman.
Kepala Bidang Pencegahan Disdamkar Samarinda, Zakky Anshari, menekankan bahwa keamanan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kedisiplinan pemilik rumah menjadi kunci utama pencegahan kebakaran.
“Kami sangat menyarankan warga untuk memastikan seluruh instalasi listrik dan kompor gas aman sebelum rumah ditinggalkan dalam waktu lama,” ujar Zakky kepada awak media di Samarinda, Minggu (15/3/2026).
Potensi bahaya yang paling sering luput dari perhatian adalah kebiasaan membiarkan peralatan elektronik tetap terhubung ke aliran listrik. Zakky mengingatkan, penggunaan alat elektronik yang tidak memenuhi standar SNI sangat rentan memicu korsleting. Risiko ini meningkat ketika beban listrik tidak terpantau saat rumah dalam keadaan kosong.
“Sebagai langkah antisipasi yang paling efektif, para pemudik sangat disarankan untuk mencabut seluruh steker dari stopkontak tanpa terkecuali guna memutus total arus yang mengalir,” imbuhnya.
Selain urusan kabel, sektor dapura juga menjadi sorotan. Risiko kebocoran gas bisa berujung fatal jika terakumulasi di ruangan tertutup.
“Pencegahan berikutnya yang tidak kalah penting adalah melepas regulator dari tabung gas demi menghindari risiko kebocoran saat rumah tidak berpenghuni,” jelas Zakky.
Disdamkar juga mendorong setiap kepala keluarga berinvestasi pada alat keselamatan mandiri. Kepemilikan alat pemadam api bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan darurat untuk meminimalkan dampak kerusakan sebelum petugas tiba.
“Kami mengimbau setiap rumah tangga agar melengkapi hunian mereka dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berukuran minimal tiga kilogram,” tegasnya.
Keberadaan APAR berfungsi sebagai pertolongan pertama yang sangat krusial bagi warga maupun tetangga sekitar. Alat ini vital jika muncul titik api sekecil apa pun di area pemukiman yang sedang ditinggal mudik.
Data menunjukkan, sepanjang tahun ini hingga Maret 2026, Kota Samarinda menghadapi sedikitnya 37 insiden kebakaran. Enam kasus di antaranya pecah pada bulan suci Ramadhan.
Meski angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya, kewaspadaan tidak boleh kendur. Ancaman kebakaran bisa muncul kapan saja.
“Meskipun tren kasus tersebut menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya, langkah antisipasi harus tetap menjadi prioritas utama masyarakat menjelang hari raya,” ungkap Zakky.
Ia ingin memastikan tren penurunan ini terus berlanjut hingga masa libur Lebaran usai tanpa ada tragedi yang menyelimuti hari kemenangan.
Sebagai bentuk komitmen pelayanan, Disdamkar Samarinda memastikan seluruh posko beroperasi 24 jam dengan standar pelayanan ketat. Tim penyelamat dikerahkan untuk menjaga waktu respons penanganan darurat agar tetap berada di bawah angka 13 menit sejak laporan diterima.
Layanan siaga ini tidak terbatas pada masalah kebakaran saja. Warga yang membutuhkan pertolongan darurat lain, seperti evakuasi hewan liar di area permukiman, juga dipersilakan melapor.
“Selain bahaya api, warga yang membutuhkan pertolongan darurat lain seperti evakuasi hewan liar di area permukiman juga dipersilakan melapor ke posko siaga Damkar,” pungkas Zakky. (TIA)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami














