BALIKPAPAN, Pranala.co — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi kendala serius. Puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG terpaksa menghentikan operasional sementara karena belum memenuhi standar Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
Akibatnya, penyaluran makanan kepada siswa penerima manfaat untuk sementara waktu tidak dapat dilakukan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan, Irfan Taufik, menyampaikan bahwa penghentian operasional dapur berdampak langsung pada distribusi makanan.
“Dampaknya tentu distribusi makanan untuk anak-anak sementara tidak bisa dilakukan karena SPPG-nya tutup,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Irfan menegaskan, penutupan sementara dapur MBG bukan keputusan pemerintah daerah. Disdikbud hanya meneruskan instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN) kepada pihak sekolah dan pengelola dapur.
Menurutnya, instruksi tersebut ditujukan kepada SPPG yang belum melengkapi administrasi serta belum memenuhi standar IPAL.
“Ini bukan kebijakan dari Disdikbud. Kami hanya menyampaikan informasi dari pusat kepada sekolah,” jelasnya.
Penghentian operasional diketahui mulai berlaku sejak 31 Maret 2026. Kebijakan ini merujuk pada surat edaran resmi BGN yang menekankan pentingnya standar pengelolaan limbah dalam operasional dapur.
Tanpa IPAL yang memadai, terdapat potensi risiko terhadap kualitas produksi, mutu gizi, serta keamanan pangan.
Selain itu, Kedeputian Bidang Pemantauan dan Pengawasan juga merekomendasikan penghentian sementara penyaluran dana bantuan pemerintah kepada SPPG yang terdampak.
Operasional baru dapat kembali berjalan setelah seluruh persyaratan dipenuhi, termasuk perbaikan IPAL dan kelengkapan dokumen yang diverifikasi oleh pihak terkait.
Berdasarkan data sementara, sekitar 74 SPPG di Kaltim terdampak kebijakan ini. Namun, jumlah pasti untuk wilayah Balikpapan masih dalam proses pendataan.
“Untuk Kalimantan Timur ada sekitar 74 SPPG terdampak. Tapi untuk Balikpapan, kami masih menunggu data pastinya,” kata Irfan.
Meski distribusi makanan terhenti, dampaknya dinilai belum terlalu terasa dalam waktu dekat. Hal ini karena sebagian siswa sedang menjalani masa libur kegiatan belajar mengajar terkait Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Namun demikian, dia berharap perbaikan dapat segera diselesaikan agar program MBG kembali berjalan optimal. [sr]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















