Pranala.co, BALIKPAPAN – Musim kemarau tahun ini di Kalimantan Timur (Kaltim) terasa berbeda. Sudah memasuki kemarau sejak Juli, tapi hujan justru masih sering mengguyur berbagai wilayah.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan kondisi itu dipicu oleh fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang tengah aktif melintasi wilayah Indonesia.
“MJO memicu terbentuknya awan hujan secara masif. Jadi, meski sekarang musim kemarau, curah hujan tetap tinggi,” jelas Kukuh, Minggu (14/9/2025).
MJO adalah gelombang konveksi atmosfer di daerah tropis yang bergerak dari barat ke timur, dengan periode osilasi sekitar 30–60 hari. Saat ini, MJO berada di kuadran 3 dan terus bergerak ke arah timur.
Kehadirannya membuat hujan tetap turun di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Timur.
Selain itu, suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang relatif hangat juga ikut berperan. Kondisi ini meningkatkan peluang terbentuknya hujan, sehingga rata-rata curah hujan bulanan di Kaltim tetap di atas 100 milimeter.
Kukuh menyebut, situasi ini menjadikan musim kemarau tahun ini berbeda. Alih-alih kering, justru disebut sebagai kemarau basah.
“Secara klimatologis, periode kemarau di Kaltim berlangsung sejak Juli hingga Oktober. Tapi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini curah hujan tidak mengalami penurunan yang signifikan,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan potensi angin selatan pada September yang bisa memicu gelombang tinggi di perairan.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap cuaca ekstrem. Hujan deras disertai angin kencang bisa menimbulkan banjir, longsor, hingga mengganggu aktivitas pelayaran. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















