PESONA air yang tenang dan jernih di lubang bekas tambang sering kali menggoda mata. Di Kalimantan Timur (Kaltim), pemanfaatan cekungan raksasa atau void ini sebagai destinasi wisata baru mulai menjamur. Namun, di balik keindahannya, ada ancaman maut yang mengintai jika pengelolaannya dilakukan sembarangan.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim memberikan peringatan. Setiap lubang bekas tambang memiliki karakteristik dan tingkat bahaya yang berbeda. Mengubahnya menjadi tempat rekreasi tanpa kajian mendalam sama saja dengan mempertaruhkan nyawa pengunjung.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengungkapkan bahwa mayoritas lubang bekas galian batubara di lapangan memiliki kondisi fisik yang sangat ekstrem. Banyak titik yang kedalamannya tidak masuk akal untuk dijadikan tempat berenang atau bermain air.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, ada kolam bekas tambang yang kedalamannya sampai lebih dari 30 meter. Itu sangat berbahaya kalau dijadikan lokasi pariwisata atau tempat aktivitas masyarakat,” ujar Bambang, Sabtu (30/5/2026).
Bambang menegaskan, setiap jengkal void tambang tidak bisa dipukul rata. Pengawasan ketat wajib dilakukan, terutama pada lubang-lubang raksasa yang belum tersentuh pengelolaan resmi dan berada di area terpencil.
Kendati demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap kreativitas warga. Ada cerita sukses di mana bekas luka bumi ini berhasil diubah menjadi ladang rezeki yang aman bagi komunitas lokal.
Salah satu contoh sukses itu berada di kawasan Loa Ulung, Tenggarong Seberang. Di sana, warga berhasil menyulap kolam raksasa menjadi destinasi wisata lokal yang selalu ramai setiap akhir pekan.
“Di Loa Ulung itu kedalamannya tidak terlalu dalam, sekitar empat meter saja. Dikelola oleh warga dan dijadikan objek wisata. Kami juga sering melihat dan mempromosikan karena memang dimanfaatkan dengan baik,” tutur Bambang.
Menurutnya, kawasan Loa Ulung bisa aman karena mendapatkan perawatan rutin. Airnya dikontrol, kawasannya dipantau, dan potensi gangguan dari alam liar terus diminimalisir. Pengunjung bisa berenang dan bermain perahu dengan perasaan tenang.
Meski begitu, Bambang mengingatkan agar kasus sukses Loa Ulung tidak dijadikan alasan untuk melegalkan semua lubang tambang di Kaltim sebagai tempat wisata. Jauh lebih banyak lubang di luar sana yang kondisinya sangat rawan dan tidak stabil.
Tim ESDM meminta masyarakat dan pihak desa untuk melihat detail setiap lokasi secara spesifik. Faktor kedalaman, kualitas air, struktur dinding batuan, hingga kejelasan siapa yang bertanggung jawab mengelola menjadi harga mati sebelum izin dibuka.
“Tidak bisa semua lubang bekas tambang langsung dijadikan tempat wisata. Harus dilihat kedalamannya, kondisi airnya, keamanan lingkungannya, serta siapa yang mengelola,” kata Bambang memungkasi. [DIAS]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















