Kefasihan dari Diam

  • Whatsapp
Pimpinan Redaksi Pranala, Suriadi Said.

MUNGKIN kita memang perlu mempelajari gramatikanya kebisuan. Mungkin sesuatu yang tengah terjadi bila kata-kata berhenti dan keadaan berdiam diri tiba-tiba menegahi suatu dialog. Pada saat itu kita mungkin lengah atau tak peduli untuk menangkap maknanya. Atau kita cukup peka.

Komunikasi memang tidak selamanya terjadi hanya karena dua mulut menerocos bersahut-sahutan. Ada sesuatu yang disebut oleh Ivan Illich sebagai “the eloquency of silence”. Yakni, kefasihan dari diam. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,”, tulisnya dalam Celebration of Awareness.

Bacaan Lainnya

Sedikit pemikir yang bisa melukiskan pengertian seperti itu dengan jelas, lebih jelas daripada Illich. Baginya, Bahasa adalah ibarat seutas tali kebisuan; bunyi hanya menjadi simpul-simpulnya. Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi pusat adalah kata-kata yang terucapkan – tapi yang membentuk roda adalah justru ruang-ruang kosong di antara itu.

“Pause-pause yang penuh arti, antara bunyi dan ucapan,” kata Illich pula, menjadi titik-titik bercahaya dalam sebuah ruang hampa yang menakjubkan: bagaikan electron dalam atom. Seperti planet-planet dalam sistem tata surya”. Sayangnya, tak selamanya kita berhasil mengangguk kepada diam.

Bahkan, kita mencoba menggantikan bahasa dengan cara-cara lebih riuh. Misalnya, kegemaran kita pada pengeras suara. Kita bukan saja telah tidak acuh kepada diam dan kebisuan. Kita bahkan telah tidak begitu yakin bahwa kata-kata bisa bergerak sendiri dengan lirih.

Sebenarnya, bila kata-kata adalah bagian dari keberdiam-dirian, yang terdengar bukanlah “ajaran” atau “kuliah”. Sebagai bagian dari kebisuan, kata-kata merupakan bagian dari proses batin. Dengan demikian, mereka merupakan bagian dari seluruh sejarah kepribadian kita.

Kata-kata itu tak cuma menempel di bibir kita, dan karenanya tak kita harapkan akan bisa begitu saja menempel pada diri orang-orang lain. Sebab meeka adalah bagian integral dari laku. Ya, manusia memang bukanlah karet. **

 

Ditulis: Suriadi Said
Pemimpin Redaksi Pranala.co

Pos terkait