JEMBATAN ulin sepanjang sekira 36 meter di RT 11, Kelurahan Tanjung Laut Indah, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) kini tak lagi memberi rasa aman bagi warga. Struktur jembatan yang menjadi akses utama permukiman itu mulai bergoyang saat dilintasi, setelah sebagian kayu penyangga di bawahnya dilaporkan hilang.
Kondisi itu mulai dirasakan warga dalam beberapa waktu terakhir. Getaran terasa lebih kuat ketika kendaraan roda dua melintas. Padahal, jembatan tersebut digunakan setiap hari untuk aktivitas warga—mulai berangkat kerja, mengantar anak sekolah, hingga akses distribusi kebutuhan rumah tangga.
“Sekarang sudah terasa goyang. Kalau dibiarkan bisa berbahaya,” kata Aco, warga setempat, Jumat (8/5/2026).
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Di kawasan pesisir seperti Tanjung Laut Indah, jembatan kayu menjadi urat nadi mobilitas warga. Kerusakan kecil saja dapat berdampak besar terhadap aktivitas harian masyarakat.
Di tengah keresahan itu, muncul pertanyaan lain yang belum terjawab: apakah kayu penyangga tersebut hilang karena dicuri atau memang sejak awal tidak pernah dipasang sepenuhnya?
Seorang warga yang meminta namanya tidak disebut mengaku pernah mempertanyakan pemasangan penyangga kepada pelaksana proyek saat pembangunan berlangsung. Namun hingga proyek selesai dan digunakan warga, sebagian penyangga disebut belum terpasang.
“Saya pernah tanya waktu itu, kenapa penyangganya belum dipasang. Jawabannya nanti dipasang. Tapi sampai diresmikan tetap belum ada,” ujarnya.
Pernyataan itu berbeda dengan hasil pengecekan lapangan yang dilakukan Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, bersama perangkat kelurahan, bhabinkamtibmas, dan babinsa pada Jumat sore. Dari pemeriksaan visual, ditemukan bekas baut pada struktur bawah jembatan yang mengindikasikan kayu penyangga sebelumnya pernah terpasang.
“Ada bekas baut. Artinya memang sebelumnya ada penyangga di situ, tetapi sekarang sebagian sudah tidak ada,” kata Elis.
Pihak kelurahan menduga pengambilan kayu terjadi saat kondisi lingkungan sepi, terutama malam hari atau ketika air laut pasang. Namun hingga kini belum ada kepastian siapa yang mengambil material tersebut.
Sementara itu, akses jembatan rencananya akan dibatasi untuk mengurangi risiko kecelakaan. Kelurahan juga meminta warga kembali mengaktifkan siskamling guna mencegah kehilangan fasilitas umum terulang. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














