SUASANA haru membuncah di apron Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, Minggu (7/6/2026) malam. Lambaian tangan dan isak tangis bahagia pecah begitu burung besi yang membawa rombongan jemaah haji Kloter 1 asal Samarinda mendarat dengan sempurna.
Langkah kaki para rukun Islam kelima ini tampak jauh lebih ringan saat keluar dari pintu pesawat. Ada pemandangan yang berbeda dan begitu menyentuh hati pada proses pemulangan jemaah haji Balikpapan tahun ini.
Jika tahun-tahun lalu para jemaah, terutama yang lansia, harus meraba anak tangga pesawat dengan hati-hati di bawah empasan angin malam, kali ini karpet merah kenyamanan langsung menyambut mereka. Bandara Sepinggan resmi mengoperasikan garbarata khusus untuk menyambut kepulangan para tamu Allah.
Bagi jemaah risti atau berisiko tinggi, inovasi ini bukan sekadar fasilitas tambahan. Ini adalah bentuk penghormatan dan pelayanan yang memanusiakan mereka setelah menempuh perjalanan udara belasan jam yang melelahkan dari Tanah Suci.
“Tahun ini adalah tahun yang sangat spesial. Ada peningkatan layanan dari kami, yaitu menggunakan garbarata,” ujar General Manager Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan, R. Iwan Winaya Mahdar.
Iwan menceritakan bahwa fasilitas belalai gajah ini sebenarnya sudah diuji coba dengan sukses saat melepas keberangkatan Kloter 1 hingga Kloter 17 lalu. Namun, melihat jemaah haji Balikpapan menggunakannya saat melangkah kembali ke tanah air memberikan kepuasan batin tersendical bagi seluruh petugas operasional bandara.
“Ini adalah hari pertama kami menyambut kedatangan jemaah haji menggunakan fasilitas garbarata saat debarkasi,” tambahnya lagi.
Bukan hanya jembatan penghubung pesawat yang disiapkan dengan matang. Bagi jemaah yang kondisi fisiknya melemah akibat suhu ekstrem di Arab Saudi, manajemen bandara sudah menyiapkan skenario penyelamatan pergerakan yang sangat rapi.
Ratusan kursi roda langsung disiagakan di ujung garbarata. Pihak maskapai Garuda Indonesia dan ground handling Gapura Angkasa bergerak cepat memindahkan jemaah yang tak lagi kuat berjalan jauh.
“Berapa pun kebutuhan jemaah yang memerlukan penanganan khusus dengan kursi roda, sudah kita siapkan semua. Tidak ada yang luput,” tegas Iwan.
Menariknya, demi memangkas jarak pedestrian bagi lansia dan jemaah risti, Bandara Sepinggan memutar otak dengan menerapkan sistem contra flow. Jemaah tidak diarahkan memutar ke jalur kedatangan biasa yang cukup jauh, melainkan langsung diarahkan memotong jalur menuju lift khusus.
“Kita gunakan jalur seperti contra flow saat embarkasi, yaitu memanfaatkan lift. Jadi jemaah risti tidak perlu kelelahan berjalan jauh,” jelasnya.
Manajemen tak bekerja sendiri. Kerja keras ini melibatkan kolaborasi erat dengan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Angkasa Pura Indonesia, hingga Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
Sebelumnya, performa pelayanan haji di gerbang udara Kaltim ini sempat mendapat pemantauan ketat dari Komisi VIII DPR RI. Hasilnya mengejutkan, koordinasi antar-lini berjalan tanpa hambatan berarti.
“Alhamdulillah berjalan dengan lancar, tidak ada catatan minor. Kunjungan dari Dewan dan Kemenhaj kemarin juga mengapresiasi, semuanya menyatakan layanan di airport berjalan sangat baik,” ungkap Iwan tersenyum.
Bagi seluruh kru bandara, senyum sumringah dan doa yang mengalir dari bibir bergetar para jemaah haji yang baru tiba adalah bahan bakar terbaik. Evaluasi malam ini akan langsung menjadi modal penting untuk menyambut belasan kloter berikutnya yang akan mendarat bertahap di Balikpapan. [RUL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















