Pranala.co, SAMARINDA – Angka impor Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren menurun. Namun, cerita di balik angkanya tidak sesederhana itu.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat nilai impor pada bulan terakhir turun 7,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Totalnya mencapai US$437,54 juta.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya impor minyak dan gas bumi. Impor migas terkontraksi 11,29 persen menjadi US$350,21 juta.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa tekanan pada sektor migas masih menjadi faktor utama penurunan impor daerah.
Namun, cerita berbeda datang dari sektor nonmigas. Justru terjadi kenaikan yang cukup signifikan.
Impor nonmigas tercatat naik 12,12 persen menjadi US$87,33 juta. Lonjakan ini didorong oleh masuknya mesin dan peralatan mekanis.
Nilainya tidak kecil. Mesin dan peralatan mekanis melonjak 60,38 persen dengan nilai mencapai US$42,55 juta.
Selain itu, impor kapal dan struktur terapung juga meningkat tajam. Naiknya bahkan mencapai 95,22 persen atau setara US$20,81 juta.
Menurut Yusniar, kenaikan impor nonmigas ini menjadi sinyal penting. Aktivitas investasi, khususnya di sektor infrastruktur dan industri, masih terus berjalan.
“Meski impor migas menurun, impor barang modal justru meningkat. Ini menunjukkan geliat pembangunan masih berlangsung,” ujarnya.
Dari sisi negara asal, Tiongkok masih mendominasi impor nonmigas Kalimantan Timur. Kontribusinya mencapai 32,35 persen selama periode Januari hingga November 2025.
Posisi berikutnya ditempati Jerman dengan porsi 8,86 persen. Disusul Amerika Serikat sebesar 8,16 persen.
Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Timur secara umum tetap solid. Neraca perdagangan pada November 2025 masih mencatatkan surplus.
Nilainya mencapai US$1,24 miliar. Surplus tersebut ditopang kuat oleh sektor nonmigas. Surplus perdagangan nonmigas tercatat sebesar US$1,47 miliar. Angka ini cukup untuk menutup defisit sektor migas yang mencapai US$223,93 juta.
Secara kumulatif, kinerja perdagangan Kalimantan Timur masih sangat positif. Sepanjang Januari hingga November 2025, neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar US$14,36 miliar.
Angka-angka ini menunjukkan satu hal. Meski impor migas menurun, roda investasi dan pembangunan di Kalimantan Timur belum berhenti berputar. Justru, mesin-mesin terus berdatangan. Tanda bahwa fondasi ekonomi masih terus dibangun. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















