CANGKUL itu sempat menghantam benda keras. Bukan batu. Bukan pula sampah logam biasa. Saat Fikri menggali makam di TPU Kilometer 8, Graha Indah, Balikpapan Utara, Minggu (26/4/2026), ia justru menemukan benda yang belakangan diduga sebagai mortir sisa Perang Dunia II.
Awalnya, aktivitas berjalan seperti hari-hari lain. Tanah digali perlahan. Hingga logam itu muncul. Fikri tak curiga. Ia mengira hanya besi tua yang tertimbun lama di dalam tanah pemakaman.
Rasa penasaran mengubah segalanya. Fikri membuka ponsel, membandingkan bentuk temuan itu dengan gambar di internet. Hasilnya membuatnya berhenti seketika.
“Setelah saya cari di Google, ternyata bom mortir,” ujarnya.
Situasi yang semula rutin mendadak berubah tegang. Fikri memilih langkah paling aman yang ia tahu: menghentikan pekerjaan, lalu mengembalikan benda itu ke dalam lubang.
“Saya takut, jadi saya taruh di situ lagi,” katanya.
Laporan segera diteruskan ke aparat setempat. Polisi datang, lalu memasang penanganan awal di lokasi. Kawasan pemakaman yang biasanya sunyi berubah menjadi titik perhatian.
Kapolsek Balikpapan Utara Kompol Muhammad Rezsa, mewakili Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jerrold H.Y. Kumontoy, membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, mortir itu diduga merupakan peninggalan Perang Dunia II.
“Kami menerima laporan dari penjaga makam. Temuan ini sedang kami tangani bersama tim Gegana,” ujar Rezsa.
Polisi kini berkoordinasi dengan Detasemen Gegana Satbrimob untuk memastikan kondisi mortir—apakah masih aktif atau tidak. Prosedur standar mengarah pada disposal atau pemusnahan untuk menghilangkan potensi bahaya.
Rezsa menyebut, secara kasat mata, mortir tersebut berukuran kecil. Namun, tingkat risiko belum bisa disimpulkan sebelum pemeriksaan teknis dilakukan.
Balikpapan sendiri bukan wilayah asing bagi temuan semacam ini. Kota minyak tersebut pernah menjadi medan penting dalam Perang Dunia II, menyisakan kemungkinan adanya amunisi yang masih tertanam hingga kini. [SR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















