PAGI di Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) tidak lagi dimulai dengan suara kompor gas yang menyala dari tabung elpiji. Di beberapa rumah, api justru berasal dari sesuatu yang dulu dianggap limbah—kotoran sapi.
Di tengah kekhawatiran global soal krisis energi, warga desa ini justru menemukan jawabannya dari lingkungan sekitar. Mereka tidak menunggu pasokan datang, tetapi menciptakan energi sendiri.
Di balik perubahan itu, ada kerja kolektif Kelompok Tani Agro Lestari. Mereka mengelola instalasi biogas berkapasitas 17 meter kubik—cukup besar untuk ukuran desa.
Setiap hari, sekira 20 gerobak kotoran sapi diolah menjadi gas yang bisa digunakan untuk memasak, menyalakan lampu, hingga mengoperasikan peralatan rumah tangga sederhana.
Ketua kelompok, Zazuli, menyebut perubahan ini bukan sekadar soal energi, tetapi juga tentang kemandirian.
“Dulu limbah hanya dibuang. Sekarang justru menjadi sumber energi dan penghasilan tambahan,” ujarnya.
Biogas yang dihasilkan tidak hanya berhenti di dapur. Limbah hasil olahan kembali dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan pupuk kandang berkualitas tinggi.
Bagi petani, ini berarti dua keuntungan sekaligus: penghematan biaya energi dan peningkatan hasil pertanian.
Bahkan, sebagian warga mulai berbagi energi dengan tetangga menggunakan kantong gas khusus—sebuah praktik sederhana yang mencerminkan semangat gotong royong.
Apa yang terjadi di Beringin Agung bukan kebetulan. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam mendorong peralihan menuju energi bersih.
Melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber energi alternatif.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen masyarakat.
“Kunci dari kemandirian energi desa adalah pengelolaan yang konsisten dan berkelanjutan,” katanya.
Bagi Beringin Agung, limbah bukan lagi masalah, melainkan peluang. Dari kandang ternak, lahir energi yang menghidupi dapur, menerangi rumah, dan menyuburkan lahan.
Kisah ini perlahan menyebar—bukan hanya sebagai cerita sukses, tetapi juga sebagai inspirasi.
Di tengah dunia yang sibuk mencari sumber energi baru, desa kecil di Samboja ini telah menemukan jawabannya lebih dulu: cukup melihat lebih dekat, pada apa yang selama ini terabaikan.
Dan dari sana, harapan itu menyala. [tia]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















