SIAPA sangka, sayuran yang saban hari mejeng di pasar terapung Banjarmasin ternyata menyimpan rahasia besar bagi dunia sains. Selama ini masyarakat lokal mengenalnya sebagai terong asam atau terong dayak, namun bagi para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tumbuhan ini adalah “harta karun” yang baru saja terungkap identitas aslinya.
Tim peneliti BRIN secara resmi mengumumkan penemuan spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari jantung Kalimantan. Spesies ini diberi nama Solanum kalimantanense.
Penamaan ini bukan sekadar label, melainkan penghormatan bagi tanah Borneo sekaligus dedikasi para peneliti yang membidaninya: Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri.
Secara kasat mata, Solanum kalimantanense punya karakter yang cukup nyentrik. Muhammad Rifqi Hariri, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa meski terlihat mirip dengan kerabat dekatnya, terong ini punya ciri fisik yang khas.
“Daunnya hampir sama panjang dan lebarnya dengan lekukan yang sangat dangkal. Yang paling mencolok, buah matangnya berbulu halus dan ukurannya lebih besar,” ungkap Rifqi.
Tak hanya mengandalkan mata telanjang, tim peneliti bahkan melakukan analisis DNA (DNA barcoding) untuk memastikan perbedaan genetiknya. Hasilnya klop; secara genetik, terong ini memang berbeda signifikan dari kerabat terdekatnya.
Bagi masyarakat suku Dayak, tanaman ini bukan orang asing. Di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, tanaman ini punya peran heroik. Daun dan kuncup buahnya kerap dijadikan obat tradisional yang disebut “Wikat” untuk membantu pengobatan kanker.
Keberadaannya juga sangat akrab dengan meja makan warga. Di pasar-pasar tradisional, buahnya sering diburu untuk diolah menjadi sayuran segar yang menggugah selera. Namun, di balik manfaatnya yang segudang, ada kabar yang cukup mengkhawatirkan.
Kajian awal menunjukkan populasi terong ini diduga terbatas. Mengacu pada kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), Solanum kalimantanense berpotensi masuk kategori rentan atau vulnerable.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa lahirnya nama spesies baru ini bukanlah proses instan. Ada keringat peneliti dalam ekspedisi lapangan yang berat hingga analisis laboratorium yang memakan waktu panjang.
“Penemuan ini membuktikan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan banyak rahasia yang belum terdokumentasi secara ilmiah, meski sudah lama dimanfaatkan masyarakat,” ujar Arif.
Temuan ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica volume 15 tahun 2026. Ia menambah panjang daftar 29 jenis flora baru yang ditemukan sepanjang 2025 hingga awal 2026. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















