Bontang Kaya Rumput Laut, tapi Minim Fasilitas Pengelola

  • Whatsapp
Ilustrasi petani rumput laut menjemur hasil panennya.

PRANALA.CO – Seakan tak ada habisnya untuk membahas sektor perikanan di Bontang. Potensi keanekaragaman hayati hingga minimnya fasilitas umum di permukiman tengah laut Kota Bontang, Kalimantan Timur masih jadi topik menarik dibahas.

Sebab, tak sedikit warga Bontang di perkampungan itu kesulitan mobilisasi karena jarak tempuh dari area perkotaan. Tentu, menjadi tantangan bagi Pemkot Bontang untuk dapat menghadirkan ragam keperluan untuk mencukupi kebutuhan warga. Seperti, ketersediaan air bersih.

Bacaan Lainnya

Mereka pun membutuhkan berbagai keperluan penunjang aktifitas sehari-hari. Apalagi, mayoritas mata pencahariannya masih bergantung hasil laut. Penangkapan ikan dan budidaya perikanan menjadi pilihan menghasilkan pundi rupiah. Pun halnya dengan produk olahannya.

Rumput laut disebut menjadi salah satu fokus pengembangan budidaya para nelayan. Namun, tak sedikit pula hambatan dihadapi. Bahkan sinergi yang terjalin dari nelayan di sana dengan warga pesisir yang lebih dekat dengan area kota sempat terkendala produktifitasnya. Dari 10 kelompok pembudidaya, hanya tersisa 1 kelompok saja.

“Beberapa hal memengaruhinya. Mulai dari keadaan cuaca, bahkan ada juga yang menyebut akibat keberadaan industri. Sehingga banyak juga dari mereka yang alih daya pekerjaan,” urai Jafar, Staf Seksi Perikanan Budidaya DKP3 Bontang ditemui, Senin 22 Maret 2021.

Hal ini amat penting diperhatikan. Sebab budidaya rumput laut merupakan salah satu fokus program pengembangan pemberdayaan nelayan. Di samping bidang peternakan berbasis Keramba Jaring Apung (KJA). Para petani rumput laut juga sangat bergantung pada permintaan pasar dan naik turunnya harga jual.

Pembinaan, perumusan kendala hingga upaya solusi alternatif mengatasinya intens diberikan pemerintah maupun perusahaan sekitar. Misalnya. Sebuah gagasan untuk menghadirkan suatu pabrik pengolahan rumput laut. Dengan harapan, mendapat kepastian pangsa pasar untuk hasil panennya.

Tak kalah penting yang sering dihadapin petani rumput laut ialah proses pengangkutan saat masa panen. Sehingga diperlukan sebuah kapal bermuatan yang mampu mengangkut rumput laut skala besar.

“Sangat dibutuhkan memang kapal khusus produksi untuk muat angkut dari pulau-pulau itu ke Bontang. Misalnya kapal bermuatan 15 GT yang nantinya bisa multifungsi untuk rumput laut maupun air bersih,” harap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bontang itu.

 

[win]

Pos terkait