BALIKPAPAN, Pranala.co — Persoalan sampah yang masih menghantui berbagai daerah di Indonesia tak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan surut. Sebaliknya, kota yang dijuluki Kota Minyak ini justru memacu strategi ganda: membersihkan lingkungan sekaligus menguatkan perekonomian masyarakat melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Balikpapan, Murni, menegaskan bahwa isu sampah bukan sekadar masalah lokal. “Persoalan sampah ini bukan hanya di Balikpapan, tetapi menjadi isu nasional,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Namun, optimisme tetap menyelimuti langkah pemkot. Berbagai kebijakan yang telah berjalan, ditambah kolaborasi lintas sektor, diharapkan mampu mempercepat pengurangan sampah dari hulu hingga hilir. Upaya ini dinilai krusial untuk mewujudkan Balikpapan sebagai kota yang bersih, indah, dan nyaman.
Tak berhenti di penanganan sampah, Murni mengungkapkan bahwa pemkot tengah mendorong strategi ekonomi yang lebih berpihak pada masyarakat lapisan bawah. Kunci utamanya adalah penyaluran anggaran hingga ke tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Ketika distribusi anggaran dilakukan hingga ke tingkat kelurahan dan kecamatan, maka kelompok-kelompok masyarakat kecil akan merasakan dampaknya secara langsung melalui peningkatan pendapatan,” jelas Murni.
Penguatan UMKM pun menjadi fokus utama. Sektor ini terbukti menjadi penopang ekonomi daerah, terutama saat masa sulit. Data menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Balikpapan menurun signifikan dari sekira 10,9 persen pada 2020 menjadi 5,8 persen saat ini.
“UMKM terbukti menjadi penopang ekonomi, terutama saat pandemi. Ketika banyak sektor terdampak, UMKM justru mampu bertahan dan menjaga perputaran ekonomi daerah,” terang Murni.
Meski industri pengolahan masih mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor tersebut memiliki keterbatasan dalam penyerapan tenaga kerja serta distribusi keuntungan yang tidak sepenuhnya berputar di daerah.
Karena itu, arah kebijakan mulai bergeser. “Karena itu, kami mendorong pengembangan ekonomi kreatif,” ungkap Murni.
Ke depan, dukungan anggaran akan difokuskan pada sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti kuliner, akomodasi, dan pariwisata.
Dia berharap, keseimbangan antara penanganan lingkungan dan penguatan ekonomi lokal dapat tercapai. Pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dirasakan secara merata oleh masyarakat. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















