GUS LUTHFY Azka Nararya berdiri tegap di halaman Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026). Di hadapan jutaan pasang mata, putra pasangan Ahmad Fauzi dan Nur Hidayah Jalil itu menuntaskan tugas sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional pada prosesi penurunan Sang Saka Merah Putih.
Bagi kedua orang tuanya, momen itu menjadi puncak dari penantian panjang. Haru, bangga, lega, sekaligus syukur bercampur ketika melihat Luthfy menyelesaikan tugas kenegaraan tersebut dengan baik.
"Alhamdulillah kami bersyukur dan lega setelah melihat Luthfy menyelesaikan tugas penurunan dengan sukses. Bangga luar biasa, bersyukur, terharu, semua perasaan bercampur menjadi satu," ujar Ahmad Fauzi kepada Pranala.co, Rabu (19/8/2026), melalui sambungan telepon.
Rasa lega itu ternyata tidak datang sejak awal. Sebelum upacara dimulai, Fauzi masih menyimpan kecemasan karena belum mengetahui tugas yang akan dijalankan putranya.
Pagi hari sebelum upacara, Fauzi bersama orang tua anggota Paskibraka lainnya mengambil undangan di Kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Saat itu, mereka belum mengetahui apakah anak-anak mereka mendapat tugas pada prosesi pengibaran pagi atau penurunan sore.
"Jujur kami sempat cemas karena belum tahu Luthfy dapat tugas di pengibaran atau penurunan. Baru setelah itu kami mengetahui dia masuk tim penurunan," kata Fauzi.
Pria kelahiran Bontang, 30 Juli 2010 silam itu, kemudian dipercaya masuk dalam Pasukan 17. Ia menempati posisi penjuru depan di sisi komandan peleton.
Posisi tersebut menuntut konsentrasi dan ketepatan gerak. Kesalahan sekecil apa pun dapat menjadi perhatian karena seluruh rangkaian upacara disaksikan masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.
Bagi keluarga, penampilan Luthfy di Istana Negara juga menjadi kebanggaan yang lebih luas.
"Dia membawa kehormatan bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk Kota Bontang dan Kalimantan Timur," ucap Fauzi.
Sebulan Berpisah, Berujung Pelukan Haru
Ada satu momen yang justru terasa lebih emosional bagi Fauzi daripada menyaksikan putranya menjalankan tugas di Istana Negara.
Momen itu terjadi ketika para orang tua akhirnya diperbolehkan bertemu kembali dengan anak-anak mereka setelah hampir sebulan menjalani karantina dan pendidikan.
Sejak 16 Juli 2026, seluruh anggota Paskibraka Nasional berada di bawah pembinaan dan tanggung jawab BPIP. Selama masa tersebut, interaksi dengan keluarga dibatasi secara ketat.
Untuk dapat bertemu anak, orang tua bahkan harus mendapatkan izin dari Direktur Paskibraka BPIP. Pengamanan juga diterapkan di setiap pintu masuk hotel tempat para anggota Paskibraka menginap.
Bagi Fauzi, perpisahan tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi keluarganya.
"Ini pertama kalinya kami berpisah sejauh dan selama itu dengan Luthfy. Saat akhirnya bertemu, rasanya campur aduk. Bangga, terharu, sekaligus melihat anak kami sudah jauh lebih dewasa dan tangguh," ungkapnya.
Pertemuan itu menjadi salah satu titik emosional dalam perjalanan Luthfy. Setelah berminggu-minggu menjalani pembinaan dengan disiplin ketat, ia akhirnya kembali bertemu langsung dengan keluarganya.
Tugas di Istana Belum Menjadi Akhir Perjalanan
Tugas pengibaran dan penurunan bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI memang telah selesai. Namun, perjalanan anggota Paskibraka Nasional belum berakhir.
Luthfy bersama anggota Paskibraka Nasional lainnya masih menjalani sejumlah agenda kenegaraan hingga 22 Agustus 2026 sebelum kembali ke daerah masing-masing.
Pada Selasa (18/8/2026), rombongan mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Mereka kemudian menghadiri jamuan makan malam bersama Panglima TNI.
Agenda berlanjut pada Rabu (19/8/2026). Seluruh anggota Paskibraka dijadwalkan memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat.
Kemudian pada Kamis (20/8/2026), mereka dijadwalkan mengunjungi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Luthfy setelah menjalankan tugas kenegaraan di Istana Negara.
Dari Lapangan SMA Vidatra Bontang ke Istana Negara
Perjalanan Luthfy bermula dari lapangan SMA Vidatra di Bontang. Dari sana, langkahnya terus bergerak hingga akhirnya berdiri di halaman Istana Negara membawa nama Kalimantan Timur.
Bagi keluarga, keberhasilan tersebut bukan sekadar soal berdiri dalam sebuah formasi Paskibraka. Ada proses panjang yang dilalui, termasuk pendidikan, karantina, kedisiplinan, serta jarak dengan keluarga selama hampir sebulan.
Kini, setelah tugas kenegaraan itu dituntaskan, cerita Luthfy menjadi kebanggaan bagi keluarga dan daerah asalnya.
Dari Bontang menuju Istana Negara, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk mencapai panggung besar tidak hanya terbuka bagi mereka yang berasal dari kota-kota besar.
Tekad, disiplin, dan konsistensi membawa Luthfy sampai ke titik itu. Dan bagi Ahmad Fauzi serta Nur Hidayah Jalil, melihat putra mereka berdiri tegap di Istana Negara menjadi momen yang akan sulit dilupakan. (*)
Biodata Singkat
Nama Lengkap: Gus Luthfy Azka Nararya
Nama panggilan: Luthfy
Tempat, Tanggal Lahir: Bontang, 30 Juli 2010
Asal sekolah: SMA YAYASAN PENDIDIKAN VIDYA DAHANA PATRA
Nama orangtua:
- Bapak: Achmad Fauzi
- Ibu: Nurhidayah Jalil
Anak pertama dari dua bersaudara
Alamat Rumah: Asrama Polres Bontang Blok C30 RT 11 Jalan Bhayangkara, Bontang, Kaltim
Tinggi dan berat badan: 179,8 sentimeter dan Berat badan 65kg
Hobi: Basket, Badminton
Cita-Cita: Akpol















