WARGA Samarinda harus meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau dalam beberapa pekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca kemarau Samarinda memicu lonjakan suhu udara hingga menyentuh angka 35 derajat Celsius sepanjang Agustus 2026.
Prakirawan BMKG Samarinda, Fiona Alya Hanifah, mengungkapkan curah hujan pada dasarian kedua dan ketiga Agustus berada dalam kategori sangat rendah, yakni di bawah 30 milimeter per 10 hari.
"Hujan bisa saja terjadi, tapi intensitas curah hujannya sangat ringan," ujar Fiona, Selasa (18/8/2026).
BMKG mencatat fenomena kekeringan kali ini menunjukkan pola yang patut diwaspadai. Karakteristik musim kering tahun ini diprakirakan menyerupai kondisi ekstrem yang pernah melanda Indonesia pada 1997 dan 2023.
Periode kemarau di Samarinda diprediksi berlangsung selama sembilan dasarian atau sekitar tiga bulan, dimulai sejak akhir Juni dan diperkirakan baru berakhir pada September atau Oktober.
"Kalau untuk yang paling kering, masih kami pantau," kata Fiona menegaskan.
Minimnya tutupan awan serta rendahnya tingkat kelembapan udara menjadi pendorong utama lonjakan suhu di Kota Tepian. Jika suhu maksimum pada Juli berada di angka 34,1 derajat Celsius, bulan ini BMKG memproyeksikan kenaikan hingga 35 derajat Celsius.
Langkah Antipasi Krisis Air dan Kebakaran Lahan
Menanggapi ancaman kekeringan yang meluas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur alias Pemprov Kaltim menyiapkan langkah intervensi darurat. Pemprov Kaltim merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berupa pembuatan hujan buatan untuk mengantisipasi krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta intrusi air laut ke Sungai Mahakam.
Skema penyemaian garam di udara ini dijadwalkan berlangsung pada rentang 22–27 Agustus 2026 jika kondisi atmosfer mendukung. Dalam operasi ini, BMKG memegang peran kunci memetakan dinamika awan dan arah angin.
Fiona menjelaskan bahwa keberhasilan pembuatan hujan buatan sangat bergantung pada faktor alam saat eksekusi armada pesawat di lapangan.
Secara umum, BMKG melakukan pemantauan kondisi cuacanya. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada kecepatan angin dan kelembapan udara. (*)















