Pranala.co, BONTANG — Suara protes datang dari kawasan Stadion Lang-Lang (Bessai Berinta), Bontang. Para pedagang kecil di sana mengeluh berat dengan kebijakan baru Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang yang menetapkan tarif retribusi ruko sebesar Rp819 ribu per bulan.
Angka itu belum termasuk biaya listrik dan air. “Itu sewa atau retribusi? Besar sekali. Sudah kayak bayar kontrakan rumah,” keluh Asep Ridwan, Ketua Komunitas Pedagang Lang-Lang, Senin (27/10/2025).
“Kalau begini, lebih baik kami tinggal di sini sekalian,” tambahnya dengan nada getir.
Masalah para pedagang bukan hanya soal tarif. Kondisi fisik lapak juga jauh dari kata layak. Tidak ada rolling door. Plafon dibiarkan terbuka. Atap bocor di sana-sini.
Saat hujan, air masuk dari depan dan atas. Ketika kemarau, panas menyengat menembus dinding seng tipis.
“Barang kami sering hilang karena gak ada pintu pengaman. Kalau hujan, tampias sampai ke dalam. Kadang banjir juga. Kami rugi terus,” sambung Asep.
Dari 28 pedagang yang terdaftar, sebagian kini memilih berhenti berjualan. Pendapatan mereka rata-rata hanya Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per hari, bahkan sering nihil.
“Kalau disuruh bayar Rp819 ribu per bulan, habislah kami. Belum listrik, belum air,” ucapnya.
Sekretaris Komunitas Pedagang Lang-Lang, Bachtiar, juga menyuarakan kekecewaan. Ia menyebut Pemkot tidak pernah mengajak pedagang berdiskusi sebelum menetapkan tarif.
“Katanya sudah ada kajian. Kajian macam apa kalau kami saja gak pernah diajak bicara? Pernah gak mereka tanya, penghasilan kami berapa, sanggup gak bayar segitu?” ujarnya kesal.
Bachtiar membandingkan dengan kawasan lain, seperti Mangrove Berbas Ujung, yang hanya dikenakan retribusi Rp300 ribu per bulan.
“Itu pun berat, tapi masih masuk akal. Kalau di sini Rp819 ribu, itu keterlaluan,” tegasnya.
Para pedagang berharap Pemkot Bontang meninjau ulang kebijakan tersebut. Mereka juga meminta agar pemerintah memperbaiki fasilitas lapak dan menertibkan pedagang liar di luar area resmi.
“Kalau mau tarik retribusi, bantu juga pendapatan kami. Perbaiki tempatnya, biar layak. Jangan cuma datang tagih uang,” tegas Asep. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















