Sepak Terjang Berliku John Kei, Dari Putus Sekolah jadi Godfather Jakarta

  • Whatsapp
Polisi merilis penangkapan John Kei dkk.

Nama John Refra Kei disebut sebagai otak kekerasan disertai pembunuhan di Jakarta Barat. Jika terbukti bersalah, ini kali ketiga sosok kesohor itu masuk bui. Semuanya karena kasus pembunuhan.

PREMAN legendaris pemimpin kelompok penagih utang ini ditangkap pada Minggu malam (21/6) bersama 24 anak buahnya di kediamannya di Jalan Tytyan Indah Utama X, Bekasi, Jawa Barat. Tim gabungan Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dibantu anggota Polres Tangerang, menduga kelompok ini bertanggung jawab atas kerusuhan pada siang hari tersebut di Perumahan Green Lake City, Tangerang, dan di kawasan Duri Kosambi, Cengkareng yang menewaskan satu orang.

Bacaan Lainnya

Dalam penangkapan, polisi menyita 28 buah tombak, 24 senjata tajam, 2 buah ketapel panah, 3 buah anak panah, 2 stik bisbol, dan 17 ponsel. Kerusuhan di Green Lake City terjadi Minggu siang sekitar jam setengah 1. Saat itu satpam perumahan kedatangan mobil Alya putih yang menolak saat dimintai identitas.

“Salah seorang justru turun dan membuka pagar bom gate, yang di dalam kendaraan malah menodongkan pistol ke petugas jaga,” kata seorang saksi kepada Tempo.

Sembari menerobos masuk, tiga mobil lain mengiringi Alya putih merangsek menuju rumah nomor 52 milik warga bernama Nus Kei yang tak lain adalah paman John Kei. Di rumah itu, sekumpulan orang bertopeng berjumlah kira-kira 15 orang merusak rumah dan mobil pemilik rumah. Nus sendiri sedang tak berada di rumah, sementara istri dan anak-anaknya yang bersembunyi di lantai dua rumah dikabarkan tidak terluka.

Setelah puas merusak, kelompok tersebut kabur. Mereka kembali menerobos gerbang perumahan yang sudah ramai dijaga satpam. Rombongan perusuh dilaporkan sempat melepaskan beberapa tembakan untuk membubarkan kerumunan. Satpam bernama Aji Nugroho tertabrak mobil pelaku dan sopir ojol bernama Andreas tertembak jempol kakinya.

Di waktu hampir bersamaan, seorang pria bernama Yustus Corwing Kei (46) meninggal setelah dibacok lima orang di jalanan Duri Kosambi. Yustus sempat dilarikan ke Rumah Sakit Puri Kembangan tetapi berakhir meninggal dunia. Dari pengakuan Kepala Unit Kriminal Umum Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat Inspektur Satu Dimitri Mahendra, peristiwa di Kosambi berkait dengan kerusuhan di Green Lake City.

Dalam konferensi pers siang tadi (22/6), Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana menyebut kelompok John Kei bertanggung jawab atas dua penyerangan tersebut. Mereka mengidentifikasi Yustus sebagai anak buah Nus Kei. Motif penyerangan adalah perselisihan keluarga soal hasil penjualan tanah di Ambon. Menurut sumber Tempo, sebelum kejadian John dan Nus sempat saling tantang lewat WhatsApp.

“Ini terkait masalah internal antara Nus Kei dan John Kei. Dia [John] merasa dikhianati masalah pembagian uang. [Kasus] ini masih pendalaman,” terang Nana, dilansir Tempo.

Dalam status narapidana bebas bersyarat, John terancam mendekam lagi di penjara. Pria yang populer sebagai pimpinan kelompok penagih utang kelas wahid di Jakarta ini sempat dipenjara sejak 2012 karena kasus pembunuhan. Begitu vonis keluar, ia dipindah dari Lapas Salemba Lapas Permisan Nusakambangan pada 2014. Pada 26 Desember 2019, ia dibebaskan bersyarat.

“Narapidana atas nama John Refra alias John Kei telah bebas menjalani pembebasan bersyarat pada tanggal 26 Desember 2019,” ujar Kabag Humas dan Protokol Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham Ade Kusmanto dilansir Kompas.

John Kei divonis 16 tahun bui atas kasus pembunuhan berencana kepada pengusaha Tan Harry Tantono alias Ayung, bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI) yang dikenal sebagai kawan baik John. Ayung ditemukan tewas dengan 32 luka tusuk setelah dianiaya John bersama kelima anak buahnya: Tuce Kei, Ancola Kei, Chandra Kei, Deni Res, dan Kupra, di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat, pada 26 Januari 2011.

“Tidak ada persaingan antara mereka [Ayung dan John]. Saat John Kei perlu duit, minta ke Ayung dikasih. Kalau ada bisnis apa, dan dinilai Ayung visible, dia bantu dan ini berjalan terus. Saya juga agak aneh kalau John Kei sampai bunuh Ayung, apa enggak suatu kebodohan?” kata kuasa hukum Ayung Carel Ticualu kepada Kompas.

Ditengarai, John Kei punya kesepakatan lain yang lebih menguntungkan daripada persahabatannya dengan Ayung, yang membuat nama Ho Giok Kie alias Arifin muncul. Arifin adalah seteru Ayung dalam bisnis PT SSI.

Meski telah dipenjara, John Kei masih sempat menjadi sorotan pemberitaan. Bulan November 2017, ia dikabarkan diserang 10 narapidana lain. Serangan itu berubah jadi bentrok karena John dilindungi anak buahnya di penjara. Satu orang tewas dalam huru-hara itu.

Berbekal remisi 36 bulan, John harusnya baru bebas murni pada 31 Maret 2025. Namun, ia diberi pembebasan bersyarat pada 26 Desember 2019 diikuti masa percobaan hingga 31 Maret 2026. Sebelum menjalani hukuman, John dikenal lebih religius. Tetangga John juga bersaksi, sejak bebas pria itu sudah mendapat panggilan ceramah ke mana-mana sebagai pendeta.

“Saya bisa bebas dengan selamat karena anugerah Tuhan. Dan, hari ini pula saya merasa begitu bahagia. Mungkin setelah bebas, saya kembali hidup bersama keluarga saya. Mungkin kehidupan-kehidupan saya yang lama, saya tinggalkan,” ujar John Kei sesaat setelah bebas dari penjara.

Kesan pertobatan itu juga tampak ketika ia diwawancarai Andy F. Noya dalam talkshow Kick Andy, April tahun lalu. Panjang lebar John menjelaskan proses pendekatan dirinya dengan Tuhan selama di penjara. Ia menyatakan akan melupakan kehidupan kelamnya sebagai preman setelah divonis bebas bersyarat.

Jauh sebelum namanya tersohor di Jakarta, John adalah remaja putus sekolah yang lari dari Maluku ke Jawa untuk mengadu nasib.

Nama aslinya John Refra. Ia lahir di Pulau Kei, Maluku Tenggara, pada 10 September 1969. Kepada Andy Noya, ia mengaku sudah belajar berkelahi sejak SD karena sering diadu kakak kelasnya di sekolah. Putus sekolah saat menempuh SMEA, John memutuskan kabur ke Surabaya pada umur 18 dan tinggal di gereja binaan seorang pendeta asal Ambon. Ia pindah lagi ke Jakarta ketika keributannya dengan pedagang bakso membuat gerejanya dikepung.

Pada 1992, John sempat menjadi satpam sebuah hostel di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Satu hari, saat ia berusaha melerai pertengkaran, seorang pria memukulnya dari belakang. Perkelahian berakhir setelah dilerai polisi. Ia sempat dibawa ke kantor polisi namun dipulangkan. Yang dilakukan John kemudian adalah mendatangi orang yang memukulnya dengan membawa golok.

“Niat saya tadinya saya enggak mau bunuh dia, hanya mau saya kasih putus tangan. Ternyata, di luar dugaan, parang pas kena leher,” cerita John tentang pembunuhan pertamanya kepada Andy. Dua minggu berselang, ia merasakan pertama kali masuk penjara.

Nama John populer sebagai preman setelah ia mendirikan Angkatan Muda Kei (AM Kei) dan menjadi ketua umum. Kelompok ini menggapai pengakuan ketika sukses bergerak di jasa pengamanan dan penagihan utang, dengan pengguna jasa sampai Singapura dan Australia. AM Kei juga menguasai daerah pusat perbelanjaan Tanah Abang di Jakarta Pusat.

Dikutip dari Ian Wilson dalam buku Politik Jatah Preman, pada awal 2000-an banyak kelompok preman terbentuk dari jaringan keluarga, ikatan klan, dan arus migrasi ke Ibu Kota. Selain John Kei dari Pulau Kei, ada Ongen Sangaji dari Ambon dan Hercules dari Timor Timur.

AM Kei tersohor sebagai kelompok penagih hutang yang kompeten karena pada masanya, banyak pelanggan tetap memakai jasa mereka dengan bayaran tinggi. Kerja penagih utang yang berhasil akan membuat karier para pengusaha kekerasan, sebutan Wilson untuk kelompok preman penagih utang, moncer.

Imbasnya, John Kei sukses menjadi sosok karismatik terkenal di antara sanak saudaranya di kampung. AM Kei pun sering jadi persinggahan pertama anak-anak muda Pulau Kei yang baru tiba di Jakarta, membuat kekuatan kelompok ini semakin kuat. (*)

Pos terkait