PERUBAHAN pola transaksi dari pasar konvensional ke platform digital mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang memperbarui metode pendataan ekonomi. Melalui Sensus Ekonomi 2026, BPS akan memotret ulang seluruh aktivitas ekonomi, termasuk sektor digital yang selama ini belum sepenuhnya tercatat.
Kepala BPS Bontang, Nur Wahid, mengatakan sensus ini menjadi momentum penting untuk menangkap pergeseran struktur ekonomi dalam satu dekade terakhir, terutama akibat percepatan digitalisasi.
“Dalam 10 tahun terakhir, ekonomi berubah signifikan. Transaksi digital kini menjadi arus utama, dan itu harus tercatat secara akurat,” ujar Nur Wahid, Rabu, 15 April 2026.
Berbeda dari sensus sebelumnya, Sensus Ekonomi 2026 akan secara khusus mengidentifikasi aktivitas ekonomi digital, mulai dari perdagangan online, jasa berbasis aplikasi, hingga profesi baru seperti kreator konten, influencer, dan pelaku usaha berbasis media sosial.
Menurut Nur Wahid, pendekatan ini penting karena aktivitas ekonomi tidak lagi terbatas pada toko fisik atau perusahaan formal, tetapi juga berkembang di ruang digital.
Selain itu, BPS juga akan memvalidasi keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sempat tumbuh pesat selama pandemi Covid-19. Di Bontang, tercatat sekira 24 ribu pelaku usaha mendaftar saat pandemi, namun belum diketahui berapa yang masih aktif.
“Kami ingin memastikan apakah usaha tersebut masih berjalan atau tidak. Ini penting untuk membaca kondisi riil ekonomi,” katanya.
Salah satu tantangan utama sensus ini adalah menjangkau pelaku ekonomi yang tidak memiliki usaha fisik, seperti reseller online atau usaha rumahan. Untuk itu, BPS akan melakukan pendataan langsung dari rumah ke rumah guna memastikan seluruh aktivitas ekonomi terdata.
Sensus Ekonomi 2026 mencakup hampir seluruh kegiatan ekonomi yang melibatkan transaksi, baik tunai maupun digital. Namun, sektor pertanian, administrasi pemerintahan, dan aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja tidak termasuk dalam cakupan sensus ini.
Pendataan akan dilakukan melalui dua metode, yakni pengisian mandiri secara daring untuk perusahaan besar yang dimulai Mei 2026, serta pendataan lapangan oleh petugas pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
BPS Bontang menegaskan seluruh data yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya dan hanya akan dipublikasikan dalam bentuk agregat.
“Hasil sensus ini akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan dan strategi ekonomi ke depan,” ujar Nur Wahid. [RE/FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















