GELIAT perdagangan luar negeri Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan taringnya. Sepanjang April 2026, nilai ekspor Kaltim sukses mencetak pertumbuhan dua digit secara bulanan dengan angka yang sangat fantastis, yakni menembus US$1,77 miliar atau setara dengan Rp29,74 triliun.
Lonjakan ini terhitung naik tajam sebesar 16,86 persen jika kita bandingkan dengan capaian Maret 2026 yang tertahan di angka US$1,52 miliar atau sekitar Rp25,54 triliun. Gairah pasar internasional terhadap produk lokal kembali membangkitkan asa ekonomi daerah.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai mengungkapkan bahwa sektor nonmigas menjadi juru selamat sekaligus pendorong utama meroketnya angka perdagangan ini. Sektor tersebut melesat 19,15 persen hingga menyumbang US$1,67 miliar.
Namun, di balik catatan merah pundi-pundi rupiah tersebut, ada alarm lampu kuning yang patut menjadi perhatian. Sektor migas Kaltim justru tergelincir 11,42 persen ke level US$101,00 juta.
Pemicu utamanya cukup mengejutkan, yakni nihilnya pencatatan ekspor gas alam pada bulan ini. Padahal, pada bulan sebelumnya, komoditas ini masih menyumbang angka yang lumayan besar, senilai US$68,09 juta.
Beruntung, hilangnya pasokan gas alam tertutupi oleh sektor batu bara dan hasil tambang lainnya. Komoditas bahan bakar mineral ini tetap kokoh menjadi tulang punggung dengan kenaikan senilai US$182,10 juta.
Tak kalah berkilau, sektor industri kelapa sawit melalui golongan lemak dan minyak nabati ikut melonjak drastis hingga 65,24 persen. Kejutan lain datang dari sektor metalurgi, di mana produk besi dan baja mencatatkan ekspor perdana senilai US$15,49 juta setelah bulan lalu sempat vakum.
“Selama Januari hingga April 2026, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan utama ekspor Provinsi Kalimantan Timur dengan peranan dominan sebesar 68,24 persen,” ujar Mas’ud Rifai dalam keterangan resminya.
Sementara itu, hasil industri pengolahan menguntit di posisi kedua dengan kontribusi 23,12 persen, diikuti oleh sektor migas yang menyusut ke angka 8,55 persen.
Siapa saja yang paling rajin memborong kekayaan alam Kaltim? China rupanya masih belum tergoyahkan di posisi puncak. Negeri Tirai Bambu tersebut mencatatkan nilai pembelian kumulatif sebesar US$2,04 miliar atau menguasai 34,03 persen pasar ekspor.
India menyusul di peringkat kedua dengan andil 14,17 persen, disusul oleh Filipina sebesar 9,43 persen. Menariknya, secara bulanan, lonjakan permintaan paling radikal justru datang dari Korea Selatan yang melejit hingga 122,96 persen, disusul Filipina dan Taiwan.
Untuk urusan pintu keluar barang, Pelabuhan Balikpapan masih menjadi gerbang ekspor paling sibuk di Kaltim dengan memproses nilai perdagangan US$569,00 juta. Samarinda mengekor di posisi kedua dengan US$351,28 juta, lalu disusul Tanjung Bara sebesar US$249,07 juta.
Meski rapor April 2026 ini tampak hijau dan segar, BPS mengingatkan agar pemerintah daerah dan pelaku usaha tidak cepat berpuas diri. Jika melihat data kumulatif sepanjang Januari—April 2026, total ekspor Kaltim sebenarnya mengalami penurunan 2,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, aktivitas impor Kaltim juga melonjak 32,94 persen menjadi US$839,74 juta, didominasi oleh pasokan minyak mentah untuk kebutuhan kilang yang membubung hingga 265,07 persen.
Kendati demikian, secara umum neraca perdagangan Bumi Etam masih berada di posisi yang sangat aman. Kaltim sukses membukukan surplus sebesar US$934,41 juta untuk bulan April saja.
Jika ditotal sejak awal tahun, tabungan surplus perdagangan Kaltim telah menembus angka US$4.093,58 juta atau setara dengan Rp68,76 triliun. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















