PESTA Adat Budaya Ufah Dayak Kayan siap kembali digelar di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur (Kutim), Minggu (9/8/2026). Rangkaian ritual adat ini diselenggarakan sebagai ekspresi rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil panen sepanjang tahun.
Tradisi tahunan tersebut menyajikan rangkaian pertunjukan seni, tari-tarian tradisional kolosal, pertunjukan musik khas, hingga pasar pameran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Penyelenggaraan event ini diproyeksikan menjadi penggerak utama sektor pariwisata budaya daerah sekaligus penguat ekonomi warga setempat.
Camat Kongbeng, Petrus Ivung, mengonfirmasi bahwa penataan konsep acara tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan autentik sebagaimana pelaksanaan periode sebelumnya.
"Semua tarian-tarian adat itu akan kita tampilkan. Kalau jenisnya sama seperti tahun lalu," ujar Petrus, Rabu (5/8/2026).
Tradisi Ufah merupakan warisan leluhur masyarakat suku Dayak Kayan yang diwariskan secara turun-temurun. Pelaksanaan ritual ini memuat makna filosofis mendalam terkait hubungan manusia, alam, dan Pencipta setelah siklus pertanian usai.
Agenda tahun 2026 ini bertepatan langsung dengan momen Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Miau Baru. Pemerintah kecamatan dan pemangku adat sepakat menyatukan kedua perayaan besar ini ke dalam satu rangkaian festival terpadu.
"Ufah itu sebetulnya ucapan syukur lepas panen. Karena momennya bertepatan dengan HUT Miau Baru, akhirnya digabung menjadi satu kegiatan," tutur Petrus menjelaskan penetapan jadwal tersebut.
Penyelenggaraan perhelatan budaya tahunan ini menghadapi tantangan efisiensi anggaran daerah. Meski demikian, kepastian agenda tetap terjaga melalui skema pendanaan mandiri dan kemitraan.
Petrus menegaskan bahwa seluruh kebutuhan logistik dan operasional dihimpun dari gotong royong warga, partisipasi masyarakat adat, serta dukungan tanggung jawab sosial dari perusahaan sekitar wilayah Kongbeng.
"Kalau di kita, dengan kondisi sekarang, kita upayakan dananya dari masyarakat dan sumber-sumber lain, termasuk perusahaan," kata Petrus.
Selain pengukuhan nilai sejarah dan seni, festival adat Ufah difungsikan sebagai magnet kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara menuju Kutim. Kehadiran ribuan pengunjung diyakini memberi imbas positif bagi perputaran ekonomi kerakyatan.
Pameran UMKM dan olahan produk lokal disiapkan untuk menampung komoditas unggulan warga Desa Miau Baru selama festival berlangsung.
"Kami berharap kegiatan ini bisa menarik wisatawan. Tahun lalu UMKM yang hadir cukup banyak," ucapnya menambahkan. (*)















