KAWASAN Pecinan Samarinda kembali menjadi sorotan. Jejak sejarah yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari denyut Kota Tepian kini didorong menjadi destinasi wisata budaya yang lebih hidup melalui kolaborasi akademisi, komunitas, dan pemerintah.
Upaya itu diwujudkan Pengurus Cabang Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Kota Samarinda lewat kegiatan Harmoni Mahakam Muara Lintas Budaya, Minggu (26/7/2026).
Agenda tersebut mengajak masyarakat menyusuri kawasan bersejarah, mengenal keberagaman budaya, sekaligus menikmati kekayaan kuliner lokal di tepian Sungai Mahakam.
Peserta memulai perjalanan dari kawasan Citra Niaga, kemudian berjalan melewati deretan ruko tua di Jalan Gajah Mada dan Jalan Yos Sudarso. Perjalanan berlanjut ke Gang Pecinan hingga berakhir di Kelenteng Thien Ie Kong yang menjadi salah satu penanda sejarah komunitas Tionghoa di Samarinda.
Rangkaian susur budaya ini tidak sekadar menjadi wisata jalan kaki. Kegiatan tersebut juga membuka ruang belajar bagi masyarakat untuk mengenal sejarah awal permukiman Kota Samarinda serta memahami bagaimana keberagaman budaya tumbuh dan bertahan hingga kini.
Ketua Pengcab KAGAMA Samarinda, Reynold Tumpu Panggalu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pra-acara menyambut Dies Natalis Universitas Gadjah Mada ke-77 dan Dies Natalis KAGAMA ke-67.
Menurut Reynold, KAGAMA Samarinda selama ini tidak hanya aktif menggelar kegiatan kebudayaan, tetapi juga rutin menjalankan program sosial dan lingkungan. Di antaranya reboisasi lahan pascatambang setiap tahun serta memperkuat silaturahmi dengan para alumni senior di Kalimantan Timur.
"Kegiatan ini merupakan wujud kerja sama kami dengan Pemerintah Kota Samarinda dan perhimpunan kemasyarakatan untuk mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan daerah. Melalui peringatan ini, kami berharap alumni UGM di Samarinda semakin kompak dan terus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah yang kami tinggali," ujar Reynold.
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kolaborasi antara kalangan akademisi, komunitas Tionghoa, dan pemerintah dinilai menjadi modal penting untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah yang selama ini belum tergarap maksimal.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Faisal, menilai kawasan Pecinan memiliki potensi besar karena terhubung dengan Citra Niaga, kawasan pelabuhan, hingga wisata susur Sungai Mahakam.
Menurutnya, seluruh kawasan itu dapat dikembangkan menjadi paket wisata sejarah modern yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
"Ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk menggali kembali sejarah lama Kota Samarinda sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Pengembangan ekosistem pariwisata seperti ini harus kita kerjakan bersama-sama, sehingga mampu memberikan nilai edukasi bagi generasi muda sekaligus menggerakkan perekonomian daerah," katanya.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya wajah baru kawasan Pecinan Samarinda. Tak hanya sebagai simbol keberagaman masyarakat, kawasan tersebut juga diproyeksikan berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang memadukan sejarah, kuliner, serta pesona Sungai Mahakam.
Apabila dikelola secara berkelanjutan, kawasan ini bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Samarinda. (*)















