HAMPARAN lahan bekas tambang di Desa Swarga Bara, poros Sangatta–Rantau Pulung, Kutai Timur, mulai dihijaukan kembali. Komando Distrik Militer (Kodim) 0909/KTM menanam 1.150 bibit pohon endemik Kalimantan di kawasan tersebut, Senin (4/5/2026), sebagai bagian dari upaya memulihkan ekosistem yang terdegradasi.
Jenis pohon yang ditanam tidak sembarangan. Mulai dari ulin—kayu khas Kalimantan yang kini semakin langka—hingga meranti, kapur, sengon, dan tanaman buah. Penanaman difokuskan pada lahan yang sebelumnya kehilangan tutupan vegetasi akibat aktivitas pertambangan.
Komandan Kodim 0909/KTM Letkol Arh Ragil Setyo Yulianto mengatakan, kegiatan ini tidak hanya sebatas penanaman, tetapi juga bagian dari langkah jangka panjang memperbaiki kualitas lingkungan.
“Hari ini kami menanam sekitar 1.150 bibit, termasuk ulin dan jenis endemik lainnya,” ujar Ragil di Sangatta.
Gerakan ini merupakan bagian dari program serentak jajaran Kodam VI/Mulawarman yang menargetkan sedikitnya 12.300 bibit pohon tertanam dalam periode Desember 2025 hingga Mei 2026. Kutai Timur menjadi salah satu titik penting karena luasnya lahan terdampak tambang yang membutuhkan rehabilitasi.
Fokus pada pohon endemik, terutama ulin, bukan tanpa alasan. Jenis kayu ini dikenal tumbuh lambat dan sulit tergantikan, sementara populasinya terus menurun akibat eksploitasi dan alih fungsi lahan. Tanpa intervensi, keberadaan ulin di habitat alaminya kian terancam.
Selain aspek ekologis, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan. Penanaman pohon dipandang sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali fungsi lahan sekaligus membuka peluang manfaat ekonomi jangka panjang.
Kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan upaya pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penanaman pohon serentak di wilayah Kodam VI/Mulawarman. Namun di luar target rekor, tantangan utama tetap pada keberlanjutan perawatan pohon yang telah ditanam.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi yang hadir dalam kegiatan itu menilai rehabilitasi lahan pascatambang perlu dilakukan secara konsisten. Menurut dia, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari kemampuan pohon tersebut tumbuh dan bertahan.
“Ini langkah yang baik untuk pemulihan lingkungan kita,” kata Mahyunadi. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















