Pranala.co, BONTANG – Malam di Bontang kerap menghadirkan pemandangan yang mengiris hati. Di bawah lampu jalan yang temaram, anak-anak kecil melangkah pelan di trotoar. Di tangan mereka tergantung wadah plastik berisi telur puyuh, keripik, hingga kue rumahan.
Senyum malu-malu menjadi modal mereka. Sebuah senjata sederhana untuk menarik pembeli.
Sekilas, momen itu terlihat manis. Tapi di balik tatapan polos para pedagang cilik, pertanyaan besar muncul: apakah ini sekadar membantu orangtua, atau ada bentuk eksploitasi yang dibiarkan?
Minggu (28/9/2025) malam, dua bocah berusia sekira delapan tahun tampak berkeliling di sekitar Jembatan Jalan Ahmad Yani.
“Ini telur puyuh, Om. Sepuluh ribu,” ucap salah satu dari mereka lirih kepada pembeli di sebuah warung bakso.
Kepada Pranala.co, ia bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai tukang parkir di Jalan A Yani. Ibunya menyiapkan dagangan di rumah. Tugasnya hanya satu: berjalan kaki, menembus malam, menawarkan dagangan dari warung ke warung.
Tak lama, bocah lain datang dengan barang serupa. Kali ini ia mengaku disuruh ibunya.
Dilema Warga
Fenomena ini membuat warga serba salah. Iba mendorong mereka membeli. Namun kegelisahan sulit ditepis.
“Kasihan sekali mereka. Mestinya belajar atau bermain, bukan keliling jualan di jalan,” tutur Nuraini, warga Kelurahan Api-Api.
Ironisnya, Bontang menyandang predikat Kota Layak Anak. Seharusnya anak-anak berada di ruang aman: sekolah, rumah, atau taman bermain. Bukan di jalanan yang rawan kecelakaan dan tindak kejahatan.
Undang-Undang Perlindungan Anak jelas menegaskan: eksploitasi ekonomi terhadap anak adalah pelanggaran serius. Anak-anak berhak tumbuh, belajar, dan berkembang sesuai usianya. Tanpa beban mencari nafkah.
Namun kenyataan di jalan-jalan Bontang menunjukkan lain.
Kepala Satpol PP Bontang, Ahmad Yani, menyatakan pihaknya akan segera berkoordinasi lintas instansi. Mulai dari Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Kalau tidak ada halangan, Rabu (1/10/2025) kami rapat dulu. Setelah itu baru turun ke lapangan,” ujarnya, Senin (29/9/2025).
Menurutnya, penanganan tak bisa sekadar razia. Harus ada solusi untuk anak dan keluarganya.
“Kalau hanya menangkap, tanpa solusi jelas, itu kurang baik. Karena itu hasil rapat nanti akan jadi langkah Satpol untuk bergerak,” tegasnya.
Empati masyarakat pun diharapkan lebih bijak. Bukan dengan membeli dagangan mereka, tetapi dengan mendukung pendidikan, menyediakan ruang bermain, dan memastikan anak-anak mendapat kesempatan tumbuh layak.
Karena masa depan mereka bukan di trotoar berdebu. Melainkan di ruang belajar yang terang. Di taman bermain yang sehat. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami








