PRANALA.CO, Bontang - Kota Bontang semakin serius mengembangkan sektor peternakan sebagai alternatif diversifikasi ekonomi. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang Amirudin, mengungkapkan bahwa pengembangan peternakan domba menjadi langkah strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah, mengingat keterbatasan lahan dan sumber daya alam yang ada di kota ini.
Dalam acara kajian analisis risiko yang melibatkan para ahli, akademisi, serta perwakilan instansi terkait, Amirudin menjelaskan bahwa sebagian besar lahan di Bontang telah digunakan untuk industri besar seperti PT Pupuk Kaltim dan PT Badak. Oleh karena itu, pengembangan peternakan domba dinilai sebagai solusi potensial yang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Amirudin menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan kesuksesan pengembangan peternakan domba ini. "Kami mengapresiasi kerja sama yang terjalin, dan kami berharap kajian ini dapat menjadi acuan penting bagi pengembangan sektor peternakan domba di Kota Bontang," tutup Amirudin.
Kajian yang dipaparkan Dr. Ari Wibowo, Ph.D., ahli pengolahan produk peternakan dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda mengungkapkan bahwa Bontang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat peternakan domba di Kalimantan Timur. Lokasi yang strategis, infrastruktur jalan yang baik, dan adanya lahan yang dapat dikembangkan, seperti di Kelurahan Telihan dan Bontang Lestari, menjadi modal besar untuk mewujudkan hal tersebut.
Namun, Dr. Ari juga menyebutkan adanya beberapa tantangan dalam pengembangan peternakan domba di Bontang. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain keterbatasan peralatan teknologi, kualitas tanah yang cenderung asam, dan risiko penyakit hewan yang harus dikelola dengan hati-hati.
Analisis ekonomi dari kajian tersebut menunjukkan bahwa usaha peternakan domba di Bontang berpotensi menghasilkan pendapatan hingga Rp507 juta per tahun, dengan keuntungan bersih mencapai Rp79 juta per tahun—melebihi UMR Kota Bontang.
Meskipun demikian, waktu pengembalian investasi (payback period) selama 11,18 tahun menunjukkan bahwa pengembangan sektor ini membutuhkan strategi jangka panjang. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah harga daging impor yang lebih kompetitif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing produk lokal, diperlukan strategi pemasaran digital dan branding yang lebih kuat untuk menarik minat konsumen.
Dr. Ari menekankan bahwa keberlanjutan usaha peternakan domba di Bontang sangat bergantung pada pengelolaan risiko yang meliputi biosekuriti, pengendalian penyakit, serta optimalisasi sumber daya yang ada.
Salah satu pendekatan inovatif yang diusulkan adalah konsep clustering farming, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan limbah. Selain itu, pemanfaatan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan penggunaan hasil persilangan domba Dorper dengan betina lokal diharapkan dapat meningkatkan produktivitas.
Sebagai langkah strategis untuk mendukung kemandirian pangan lokal dan meningkatkan daya saing produk peternakan, Dr. Ari merekomendasikan pembentukan pusat pembibitan (breeding center), rumah potong hewan khusus domba, serta pelatihan manajemen biosekuriti bagi peternak.
Dengan potensi besar yang dimiliki, pengembangan peternakan domba di Bontang tidak hanya dapat menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga membantu menjawab kebutuhan masyarakat akan daging merah yang berkualitas dan berkelanjutan.
Seiring dengan upaya pemerintah dalam mendukung program ketahanan pangan, peternakan domba diharapkan bisa menjadi solusi yang tepat untuk memperkuat ekonomi lokal dan mewujudkan swasembada pangan di Kaltim. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















