PAGI Iduladha di Kampung Jawa, Kelurahan Bontang Baru, Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) selalu punya suasana berbeda. Sejak selepas salat, halaman Masjid Miftahul Huda dipenuhi warga. Ada yang datang membawa perlengkapan, ada yang sibuk membantu panitia, sebagian lagi bercengkerama sambil menunggu proses penyembelihan dimulai.
Namun yang paling terasa bukan sekadar ramainya. Ada kekompakan yang hidup dan terus terjaga dari tahun ke tahun.
Tahun ini, warga kembali menunjukkan tradisi kurban yang kuat. Sebanyak 22 ekor sapi dan 5 ekor kambing dipotong di lingkungan masjid. Hewan-hewan kurban itu berasal dari urunan masyarakat di delapan RT sekitar Kampung Jawa.
Jumlah tersebut bukan hal baru bagi warga setempat. Hampir setiap tahun, jumlah sapi kurban di kawasan itu selalu menembus angka 20 ekor.
Ketua Panitia Kurban, Rembun Abu Mawardi, mengatakan tingginya partisipasi warga lahir dari kesadaran bersama yang sudah tumbuh lama.
“Warga di sini sudah terbiasa menabung atau patungan untuk kurban. Jadi setiap tahun jumlahnya stabil, bahkan cenderung meningkat,” kata Rembun saat ditemui, Rabu (27/5/2026).
Di Kampung Jawa, kurban bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi itu perlahan berubah menjadi bagian dari budaya sosial warga. Ada semangat berbagi yang terus dipelihara.
Hal itu terlihat saat proses distribusi daging dilakukan. Panitia memprioritaskan warga sekitar dan jemaah masjid sebagai penerima utama. Tetapi pembagian tidak berhenti di lingkungan sendiri.
Sebagian daging juga disalurkan ke panti asuhan dan pondok pesantren di wilayah Bontang yang sebelumnya mengajukan permohonan.
Yang menarik, panitia menerapkan sistem pembagian yang cukup disiplin. Setiap kantong daging rata-rata berisi sekitar 8 ons daging murni tanpa campuran tulang.
“Yang ditimbang hanya dagingnya, supaya semua penerima mendapatkan porsi yang setara,” ujar Rembun.
Sistem distribusi juga dibuat rapi. Sebagian daging diserahkan kepada pemilik kurban untuk dibagikan sendiri, sementara sisanya disalurkan melalui RT masing-masing.
Data penerima sudah dikumpulkan sebelumnya. Karena itu, pembagian berjalan tertib dan minim keributan.
Di balik proses yang terlihat sederhana itu, ada satu hal yang dijaga serius oleh panitia: kepercayaan warga.
Tokoh masyarakat Kampung Jawa, Hadi Supriyanto, mengatakan semangat berkurban di lingkungan tersebut tumbuh semakin kuat dalam sekitar 10 tahun terakhir. Bahkan, antusiasme warga biasanya sudah terasa jauh sebelum Iduladha tiba.
“Warga biasanya sudah mulai mendaftar lebih awal. Ini menunjukkan bahwa kurban bukan lagi sekadar kewajiban, tapi sudah menjadi kebutuhan spiritual dan sosial,” ucap Hadi.
Menurut dia, tingginya kepercayaan masyarakat menjadi amanah besar bagi panitia. Karena itu, seluruh proses pengumpulan dana hingga pembagian daging dilakukan secara terbuka.
“Kami ingin memastikan bahwa kurban ini benar-benar memberi manfaat dan sesuai syariat. Transparansi itu penting karena ini amanah,” tegasnya. [ADS/FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















