LIBUR sekolah tak selalu dihabiskan dengan bermain gawai atau mengisi waktu tanpa aktivitas yang jelas. Di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) ratusan anak justru memilih datang ke perpustakaan untuk menikmati film edukatif bersama teman dan keluarga.
Program Sinema Pusdabon yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPKD) Bontang menjadi salah satu destinasi favorit selama masa liburan. Antusiasme itu mencapai puncaknya pada penayangan terakhir, Jumat (10/7/2026), ketika 138 anak bersama orang tua memadati ruang sinema perpustakaan.
Kepala DPKD Bontang, Retno Febriaryanti, mengaku bersyukur melihat tingginya partisipasi masyarakat sejak program dimulai pada 24 Juni 2026.
“Alhamdulillah, kegiatan Sinema Pusdabon ini sukses menarik minat anak-anak untuk menghabiskan liburan di perpustakaan. Respons di hari terakhir sangat tinggi,” ujarnya.
Selama hampir tiga pekan pelaksanaan, DPKD menghadirkan dua sesi pemutaran film setiap hari. Film yang ditayangkan dipilih berdasarkan kelompok usia agar tetap sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.
Anak usia 8 hingga 10 tahun mendapatkan jadwal pemutaran pada pagi hari dengan tayangan yang ringan dan edukatif. Adapun sesi siang diperuntukkan bagi remaja dengan pilihan film yang lebih sesuai.
“Jadi setiap hari ada dua film yang kami siapkan,” kata Retno.
Keberhasilan program tersebut menjadi dorongan bagi DPKD untuk menjadikannya agenda rutin setiap musim liburan sekolah. Harapannya, perpustakaan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan.
“Kami ingin menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang dirindukan anak-anak. Kegiatan ini akan terus kami adakan ke depan,” ujarnya.
Tak hanya dimanfaatkan selama program berlangsung, fasilitas sinema teater di Perpustakaan Daerah Bontang juga dapat digunakan oleh sekolah maupun kelompok masyarakat yang ingin menggelar kegiatan nonton bersama.
Pengguna cukup mengajukan permohonan dengan jumlah peserta minimal 50 orang dan menyesuaikan jadwal yang tersedia.
“Masyarakat bisa memanfaatkan ruang tersebut sebagai sarana edukasi alternatif,” jelas Retno.
Bagi anak-anak, pengalaman menonton di perpustakaan menghadirkan kesan yang berbeda. Zahwa (11), salah seorang peserta, mengaku senang bisa menikmati film bersama teman-temannya dalam suasana yang nyaman.
“Seru sekali, bisa nonton di sini. Semoga tahun depan tetap ada,” ujarnya. (*)


















