PROGRAM Seragam Gratis Bontang untuk tahun ajaran 2026/2027 mulai berjalan. Distribusi dilakukan secara bertahap dengan mendahulukan siswa baru kelas 1 SD dan kelas 7 SMP, meski proses produksi belum sepenuhnya selesai.
Di balik pembagian yang belum serentak itu, ratusan penjahit lokal masih berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan ribuan pesanan. Pemkot Bontang memilih memberi ruang kepada pelaku usaha kecil agar manfaat program tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari jasa menjahit.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Saparuddin, mengatakan penyaluran seragam sudah dimulai sejak beberapa hari terakhir.
Menurutnya, prioritas diberikan kepada siswa yang baru memasuki jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
“Distribusi sudah kami mulai. Saat ini prioritas utama siswa kelas 1 dan 7. Memang masih berjalan bertahap,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Senin (13/7/2026).
Teknis pembagian diserahkan kepada masing-masing sekolah. Langkah itu dilakukan agar proses distribusi lebih fleksibel dan menyesuaikan kondisi di lapangan.
600 Penjahit Lokal Masih Menyelesaikan Pesanan
Belum meratanya distribusi bukan tanpa alasan. Produksi seragam melibatkan sekitar 600 penjahit lokal yang mengerjakan pesanan dalam jumlah besar.
Karena kapasitas produksi setiap penjahit berbeda, pengiriman ke sekolah juga dilakukan sesuai progres penyelesaian masing-masing.
“Setiap penjahit punya target waktu yang berbeda. Jadi pengiriman dilakukan sesuai kesiapan masing-masing,” jelas Saparuddin.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengakui pelibatan penjahit lokal membuat proses produksi membutuhkan waktu lebih lama dibanding menggunakan penyedia besar.
Namun, keputusan itu diambil dengan pertimbangan memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.
“Karena yang membuat penjahit-penjahit lokal, mungkin belum semuanya bisa mengejar target sebelum tahun ajaran baru dimulai. Satu penjahit bahkan bisa mendapat sekitar 600 jahitan, jadi mereka harus kerja keras,” katanya.
Menurut Neni, program seragam gratis tidak hanya berorientasi pada bantuan pendidikan, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan usaha mikro di Kota Bontang.
“Kalau tidak kita berdayakan, kasihan mereka. Mereka juga harus hidup. Insyaallah semua bisa selesai dan dipakai anak-anak kita sesuai harapan,” tuturnya.
Meski distribusi masih berlangsung, Pemerintah Kota Bontang menargetkan seluruh seragam dapat diterima siswa dalam waktu dekat.
Neni mengaku berharap seluruh siswa sudah mengenakan seragam baru sejak hari pertama masuk sekolah. Namun, jika belum seluruhnya selesai, distribusi ditargetkan tuntas dalam bulan-bulan awal tahun ajaran ini.
Untuk menjalankan program tersebut, Pemkot Bontang mengalokasikan anggaran sekitar Rp11 miliar melalui mekanisme e-katalog.
Sebanyak 29.820 stel seragam disiapkan, terdiri atas 19.970 stel seragam putih-merah untuk siswa SD dan 9.850 stel seragam putih-biru bagi siswa SMP. (*)















