PEMANDANGAN mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sibuk mengecat gapura, membuat pelang jalan, atau sekadar membersihkan tempat sampah nampaknya harus mulai ditinggalkan. Setidaknya, itulah pesan yang dilemparkan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni.
Di hadapan 132 mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) yang bersiap mengabdi di Kota Taman, Wali Kota Neni meminta mereka membawa perubahan nyata. Pemerintah daerah menaruh harapan besar pada pundak intelektual muda ini.
“Kami harap kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat dapat menghadirkan ide-ide segar dan inovatif. Jangan hanya mengerjakan hal-hal simbolik,” tegas Neni saat menyambut para mahasiswa di Ruang Auditorium Tiga Dimensi, Senin (13/7/2026).
Neni tidak menampik bahwa selama ini program KKN kerap terjebak pada kegiatan seremonial belaka. Padahal, urusan infrastruktur fisik dasar seperti itu mayoritas sudah diakomodasi Pemerintah Kota Bontang.
Kota Bontang saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Isu-isu strategis seperti pengentasan kemiskinan, penurunan angka stunting, manajemen pengelolaan sampah, hingga edukasi budaya hidup bersih menanti sentuhan tangan mahasiswa.
Alih-alih membawa kuas cat, Neni menantang ratusan mahasiswa lintas program studi tersebut untuk membawa teknologi. Digitalisasi di tingkat Rukun Tetangga (RT) kini menjadi kebutuhan yang mendesak.
“Sekarang teknologi sudah canggih. RT ini perlu inovasi teknologi informasi berbasis digital. Jadi ayo kembangkan itu,” dorongnya.
Langkah pengabdian selama 45 hari ke depan ini menyasar 15 kelurahan di Bontang. Karena intensitas interaksi yang tinggi, Neni juga menyelipkan pesan khusus agar para mahasiswa senantiasa menjaga nama baik almamater dan etika lokal.
“Hati-hati, tetap jaga etika dan keharmonisan. Perilaku mahasiswa akan menjadi perhatian warga. Kalau ada perilaku menyimpang pasti akan cepat diketahui,” wanti Neni.
Senada dengan Wali Kota, perwakilan Universitas Mulawarman, Swandari Paramita, turut memberikan instruksi tegas kepada anak didiknya. Kampus tidak ingin KKN kali ini minim dampak bagi warga lokal.
Swandari meminta mahasiswa jeli mengidentifikasi masalah di setiap kelurahan sejak hari pertama. Program kerja yang disusun harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat setempat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik.
“Saya sudah peringatkan jangan hanya buat program simbolis. Fokus selesaikan masalah yang ada di wilayah tugasnya masing-masing,” tegas Swandari. (*)
















