ALARM bahaya sedang berbunyi di sepanjang aliran sungai dan pesisir Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Satwa predator, buaya, semakin sering menampakkan diri di permukiman warga hingga kawasan wisata pantai.
Fenomena mengerikan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah setempat blak-blakan menyebut manusia telah merebut rumah asli para pemangsa ini.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, mengungkapkan konflik horizontal antara manusia dan reptil berdarah dingin ini melonjak tajam karena alih fungsi lahan masif. Rawa-rawa yang dulu menjadi kerajaan bagi para buaya, kini telah bersulih rupa menjadi daratan komersial.
“Karena pada saat dulu buaya ada habitatnya. Di rawa-rawa ditinggal. Itu kan bukan buaya sungai, tapi buaya rawa,” ujar Mahyunadi di Sangatta, Senin (13/7/2026).
Tragedi ekologis ini bermula ketika rawa-rawa mulai dikeringkan. Pembukaan lahan berskala besar, salah satunya untuk perkebunan kelapa sawit, memaksa predator purba ini keluar dari zona nyaman mereka.
“Begitu habitatnya diambil oleh masyarakat, oleh manusia dijadikan sawit dan sebagainya, maka mereka pindah ke sungai. Hilang habitatnya,” kata Mahyunadi dengan nada prihatin.
Perpindahan massal ini memicu masalah baru yang lebih pelik. Sungai-sungai di Kutim yang menjadi urat nadi aktivitas harian masyarakat, kini mendadak menjadi wilayah perburuan baru bagi buaya.
Masalah buaya di Kutim tidak berhenti pada hilangnya tempat tinggal. Rantai makanan yang terputus di alam liar membuat insting bertahan hidup mereka menjadi jauh lebih agresif.
Populasi satwa buruan seperti monyet dan babi hutan dilaporkan menyusut tajam akibat pembukaan hutan. Dampaknya, pasokan makanan alami bagi sang pemangsa praktis l menusuk titik nadir.
“Saat sekarang buaya jadi ganas karena dia kehilangan makanan, sumber makanannya. Dia kehilangan habitat dan makanan,” ucap Mahyunadi menegaskan.
Efek domino dari kelaparan massal satwa ini bahkan telah menjalar hingga ke sektor pariwisata. Kawasan populer seperti Pantai Teluk Lombok kini tak lagi sepenuhnya aman bagi pelancong.
Beberapa kali laporan kemunculan buaya berukuran besar di bibir pantai membuat otoritas setempat bergerak cepat. Papan peringatan berwarna merah mencolok kini mulai menghiasi sudut-sudut pantai.
Bukan hanya di Teluk Lombok, langkah antisipasi serupa juga diterapkan di Pantai Sekerat. Wisatawan kini diminta ekstra waspada dan dilarang berenang terlalu jauh ke tengah laut.
Menyikapi ancaman yang terus mengintai nyawa warga, Pemkab Kutim tidak tinggal diam. Koordinasi intensif dengan Pemprov Kaltim terus dilakukan untuk merumuskan solusi jangka panjang.
Salah satu rencana besar yang sedang digodok adalah pembangunan penangkaran buaya khusus. Langkah ini diharapkan mampu merelokasi buaya-buaya yang telanjur masuk ke wilayah konflik dengan manusia.
Di akhir penjelasannya, Mahyunadi mengetuk kesadaran kolektif masyarakat. Ia mengajak semua pihak untuk berhenti merusak ekosistem pesisir dan menjaga kebersihan lingkungan. (*)

















