Pranala.co, SAMARINDA – Sektor jasa keuangan di Kalimantan terus bergerak positif. Hingga November 2025, kinerjanya tercatat solid. Stabil. Bahkan menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Parjiman, menyebut total aset, dana pihak ketiga, serta penyaluran kredit perbankan di seluruh Kalimantan terus meningkat.
Kondisi ini menandakan fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik.
“Kinerja sektor jasa keuangan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang tetap terjaga,” kata Parjiman dalam keterangan resmi, Minggu (18/1/2026).
Secara ekonomi, Kalimantan mencatat pertumbuhan sebesar 4,70 persen secara tahunan. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp478,40 triliun.
Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.
Pembiayaan perbankan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor unggulan. Industri pengolahan tumbuh. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencatatkan kinerja signifikan.
“Ketiga sektor itu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Kalimantan ke depan,” ujar Parjiman.
Data OJK menunjukkan, hingga akhir November 2025, empat Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Pulau Kalimantan membukukan total aset Rp133,69 triliun.
Angka ini tumbuh 4,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset ditopang peningkatan dana pihak ketiga. Nilainya mencapai Rp102,46 triliun atau naik 5,83 persen.
Sementara itu, kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp62,81 triliun. Tumbuh 3,22 persen secara tahunan. Di sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 5,02 persen.
Meski demikian, kondisi likuiditas perbankan masih tergolong aman. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Current Account Saving Account (CASA) berada di kisaran 60 hingga 80 persen. Angka ini mencerminkan likuiditas yang relatif terjaga.
Untuk perbankan skala kecil, OJK mencatat adanya proses transformasi kelembagaan. Jumlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kalimantan menurun. Dari 53 unit pada akhir 2023 menjadi 51 unit pada akhir 2025.
Menurut Parjiman, penurunan tersebut bukan tanda pelemahan. “Ini bagian dari proses konsolidasi, melalui penggabungan dan peleburan usaha,” jelasnya.
Saat ini, di Kalimantan terdapat empat Bank Pembangunan Daerah, 51 Bank Perkreditan Rakyat, serta tiga Bank Perkreditan Rakyat Syariah.
Seluruh lembaga keuangan tersebut berperan penting dalam mendukung pembiayaan daerah.
Aliran kreditnya menopang sektor-sektor unggulan. Industri pengolahan terus bergerak. Pertanian, kehutanan, dan perikanan makin berkembang. (RIL)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















