LANGKAH mitigasi El Nino Kaltim mulai diperkuat. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda menyiapkan strategi menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.
Kemarau tahun ini diperkirakan tidak seekstrem 2023, namun berlangsung lebih lama. BWS mengantisipasi dampak kekeringan sejak dini, terutama untuk sektor pertanian dan ketersediaan air baku di Kalimantan Timur.
Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan BWS Kaltim IV, Riz Anugerah, mengatakan pihaknya telah menerima proyeksi dari BMKG.
“Durasi kemarau lebih panjang, sehingga kami siapkan langkah antisipasi lebih awal,” ujarnya kepada Pranala.co, Senin (20/4/2026).
Langkah tersebut mencakup pemberdayaan petani melalui komisi irigasi di daerah. Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi juga dilakukan untuk membantu petani menentukan waktu tanam dan panen.
Strategi ini diharapkan mampu menekan risiko gagal panen akibat kekeringan.
BWS juga mengoptimalkan lima bendungan utama di Kaltim.
Di antaranya Bendungan Lempake di Samarinda, Manggar dan Teritip di Balikpapan, Samboja di Kutai Kartanegara, serta Sepaku Semoi di Penajam Paser Utara.
“Bendungan ini menjadi tumpuan utama untuk air baku dan irigasi,” jelas Riz.

Selain itu, sumber air non-waduk seperti embung, situ, dan danau juga dimanfaatkan. Sebagai cadangan, puluhan sumur bor dalam telah disiapkan.
Sumur ini memiliki kedalaman hingga 100 meter untuk menjangkau air artesis yang bisa terisi ulang secara alami.
Untuk mempercepat respons, BWS menyiagakan alat berat dan perlengkapan darurat. Mulai dari ekskavator, dump truck, mobile pump, hingga sandbag dan geotekstil.
Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi lintas instansi. BWS bekerja sama dengan BMKG, BPBD, hingga Dinas Pertanian untuk memastikan penanganan terpadu.
“Kami juga membuka koordinasi dengan pemerintah daerah agar kebutuhan logistik bisa segera dipenuhi,” kata Riz. [TIA]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















