PENGEMBANGAN Pengembangan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Balikpapan mulai menunjukkan kemajuan, meski masih terkendala keterbatasan lahan. Dari sembilan titik pembangunan, satu koperasi telah beroperasi di kawasan Graha Indah, sementara lainnya masih dalam tahap pengerjaan.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setya Kusuma, mengatakan unit di Graha Indah menjadi yang pertama rampung dan kini sudah melayani masyarakat. Keberadaan koperasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi warga di tingkat kelurahan.
“Yang sudah selesai dan beroperasi saat ini baru satu di Graha Indah,” ujar Heruressandy kepada Pranala.co, Senin (20/4/2026).
Sementara itu, lima lokasi lain mencatat progres pembangunan di atas 50 persen, masing-masing berada di Karang Joang, Manggar, Manggar Baru, Teritip, dan Gunung Bahagia. Adapun tiga titik lainnya, termasuk Batu Ampar dan Sepinggan Baru, masih berada pada tahap awal pembangunan.
Di sisi kelembagaan, total 34 koperasi telah terbentuk di berbagai kelurahan. Namun, tidak seluruhnya dapat segera dibangun karena terkendala ketersediaan lahan yang sesuai peruntukan.
Heruressandy mengakui persoalan lahan menjadi tantangan utama dalam percepatan program ini. Ia menekankan pentingnya kejelasan status dan peruntukan lahan milik pemerintah untuk mendukung pembangunan koperasi.
“Hambatan utama memang pada lahan. Idealnya, aset pemerintah memiliki peruntukan yang jelas, termasuk untuk koperasi,” katanya.
Pemerintah kota saat ini masih berkoordinasi dengan instansi terkait guna memanfaatkan aset daerah yang tersedia. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat realisasi pembangunan koperasi di titik-titik yang belum berjalan optimal.
Dari sisi operasional, koperasi yang telah berjalan difokuskan pada distribusi barang subsidi melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Produk yang disalurkan meliputi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), gula, dan minyak goreng sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Kerja sama distribusi elpiji juga tengah dijajaki.
Namun demikian, koperasi belum memperoleh dukungan modal usaha. Untuk sementara, aktivitas usaha masih bergantung pada penyaluran barang subsidi dari BUMN.
“Bantuan modal usaha belum tersedia. Saat ini koperasi masih mengelola distribusi barang subsidi,” ujar Heruressandy.
Ke depan, KKMP direncanakan berkembang menjadi pusat layanan kebutuhan pokok layaknya minimarket bagi anggota. Jika terdapat kelebihan stok, penjualan juga dapat dilakukan kepada masyarakat umum dengan tetap mengacu pada HET.
Program pembangunan koperasi ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan didukung pemerintah pusat melalui Danantara dengan penugasan kepada Agrinas Pangan Nusantara sebagai pelaksana.
Struktur pengurus koperasi berasal dari masyarakat setempat yang ditetapkan melalui musyawarah kelurahan, dengan lurah sebagai ketua pengawas. [SR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















