Tidak semua mimpi lahir di kota besar. Di Kaliorang dan Sangatta, dua pelajar menapaki jalan panjang—pelan, sunyi, tapi pasti—hingga akhirnya sampai di panggung nasional.
PETA mungkin menandai Kaliorang dan Sangatta hanya sebagai titik kecil di Kalimantan Timur (Kaltim). Jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Jauh dari pusat perhatian.
Tapi dari titik kecil itulah, dua nama kini bergerak ke panggung yang lebih besar.
Zevanya Yiska Merlyni Wowor.
Halomoan Arka Zora Panjaitan.
Mereka bukan datang dari ruang kosong. Mereka datang dari proses yang panjang. Dari hari-hari yang diisi belajar, berlatih, juga jatuh—lalu bangkit lagi.
Zevanya tumbuh dengan satu keyakinan sederhana: pelajar tidak boleh berhenti pada angka. Nilai rapor penting, tapi bukan segalanya.
Ia membuktikannya.
Juara dua Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi. Medali perak Olimpiade Sejarah. Deretan prestasi itu seperti anak tangga—yang satu demi satu ia naiki.
Tapi Zevanya tidak berhenti di podium.
Ia memilih turun. Mendekat ke pelajar lain.
Saat dipercaya menjadi Ketua Umum Forum OSIS Nasional 2025, ia tidak sekadar menjalankan jabatan. Ia menciptakan ruang. Ia menamainya “Zevolution”.
Sebuah gerakan kecil. Tentang percaya diri. Tentang keberanian menjadi diri sendiri.
“Saya ingin pelajar tidak hanya pintar, tapi juga punya nilai diri,” katanya.
Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada kegelisahan yang tidak semua orang lihat.
Tentang pelajar yang merasa kecil. Tentang potensi yang sering tidak berani muncul.
Di sisi lain, Halomoan berjalan dengan ritme berbeda.
Ia tidak banyak bicara tentang angka. Ia berbicara lewat karya. Lewat aksi.
Film pendek yang ia buat membawanya ke juara tiga tingkat nasional. Di Jumbara 2023, ia berdiri sebagai yang terbaik dalam kepemimpinan.
Ia pernah berdiri tegak sebagai anggota Paskibraka Provinsi Kalimantan Timur 2024. Sebuah posisi yang tidak hanya membutuhkan disiplin, tapi juga integritas.
Namun yang paling ia bawa bukan trofi.
Ia membawa kegelisahan.
Tentang perundungan. Tentang pelajar yang diam, tapi terluka.
“Bullying masih terjadi. Dan itu nyata,” ujarnya pelan.
Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat orang berhenti sejenak.
Kini, jalan Zevanya dan Halomoan bertemu di satu titik: Pemilihan Putra Putri Pelajar Indonesia 2026 tingkat nasional.
Mereka akan berangkat. Membawa nama Kalimantan Timur.
Tapi lebih dari itu, mereka membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Zevanya membawa keyakinan bahwa pelajar harus berani tumbuh.
Halomoan membawa pesan bahwa pelajar harus saling menjaga.
Sebelum panggung itu benar-benar mereka pijak, masih ada proses yang harus dilalui. Pembinaan. Latihan. Penguatan diri.
Tidak ada jalan pintas.
Mungkin, bagi sebagian orang, ini hanya kompetisi.
Tapi bagi mereka, ini perjalanan.
Perjalanan dari ruang kelas sederhana, menuju ruang yang lebih luas. Dari suara kecil, menuju suara yang ingin didengar.
Kaliorang dan Sangatta mungkin tetap sunyi.
Tapi dari sana, dua suara kini sedang mengetuk panggung nasional.
Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari tempat yang tidak banyak orang lihat. [HAF]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















