Pranala.co, BONTANG — Angka kebakaran di Kota Bontang terus meningkat. Dalam tiga tahun terakhir, kerugian akibat si jago merah tercatat lebih dari Rp16 miliar.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang pun tak ingin warganya sekadar menjadi penonton. Melalui sosialisasi di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Bontang Selatan, Rabu (1/10), warga didorong untuk lebih siaga menghadapi ancaman kebakaran.
Acara yang diprakarsai Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) ini mempertemukan pemerintah, relawan, dan perwakilan masyarakat dari berbagai RT.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat, menekankan pentingnya peran masyarakat. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan sekecil apapun bisa memperbesar kerugian.
“Setiap menit keterlambatan bisa membuat api semakin membesar. Masyarakat harus tahu prosedur. Jangan hanya menonton atau panik. Kerja sama masyarakat, pemerintah, dan relawan adalah kunci untuk mengurangi risiko,” ujarnya.
Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin, juga blak-blakan soal hambatan yang kerap dihadapi petugas. Mulai dari gang sempit, kepanikan warga, hingga kebiasaan sebagian masyarakat yang lebih sibuk merekam kejadian daripada membantu membuka akses jalan.
“Kami sering terhalang parkir liar atau warga yang ikut menarik selang. Padahal, tindakan sederhana seperti segera mematikan aliran listrik dan tidak menghalangi mobil damkar itu sangat membantu,” jelasnya.
Sosialisasi ini bukan hanya sekadar penyuluhan. Pemerintah berharap para peserta yang hadir bisa menjadi penyambung lidah di lingkungan masing-masing.
“Budaya siaga harus ditularkan. Dari keluarga, lalu komunitas. Karena pencegahan kebakaran bukan hanya tugas petugas damkar, tapi tanggung jawab bersama,” tegas Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin. (RE/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami








