Kaltim Tes Covid-19 Mandiri, Sehari Bisa Uji 276 Sampel

Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi saat peresmian pengoperasian PCR di laboratorium UPTD Kesehatan Kaltim, Selasa (2/6).(Antaranews Kaltim/Arif Maulana)

PEMPROV Kalimantan Timur (Kaltim) meresmikan pengoperasian laboratorium yang bisa memeriksa spesimen terkait virus Corona (COVID-19) dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Penambahan alat PCR dilakukan guna mempercepat pendeteksian Corona.

Adalah laboratorium milik unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Lab Kesehatan Daerah (Labkesda) Kaltim di Samarinda yang diresmikan menjadi laboratorium ketiga di provinsi itu yang bisa melakukan tes PCR, Selasa (2/6).

Keberadaan Labkesda ini memperkuat dua laboratorium khusus pemeriksaan Corona yang telah ada di Kaltim, yakni di Laboratorium RSUD AW Syahranie dan Laboratorium RS Pertamina Balikpapan.

Kepala UPTD Labkesda Agus Joko Praptomo mengatakan alat PCR yang berada di laboratorium kesehatan mereka dipastikan bekerja tiga kali sehari. Dalam sekali beroperasi, alat tersebut bisa memeriksa hingga 92 sampel. Jika sehari bisa periksa 276 sampel

Selain melakukan pemeriksaan swab dari rumah sakit-rumah sakit rujukan COVID-19, laboratorium ini juga melayani pemeriksaan mandiri. “Kalau ada warga yang menginginkan periksa mandiri harganya sebesar Rp 1,9 juta per sampel. Itu sudah mendapat subsidi dari pemerintah,” terang Agus.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi yang langsung meresmikannya ditandai dengan pemotongan pita. Dia pun bersyukur  dengan di operasikannya PCR milik UPTD Labkesda Kaltim, maka tambahan peralatan kesehatan ini mampu mempercepat penanganan virus corona (COVID-19) di Kaltim.

Wagub Hadi berkata hal ini merupakan sebuah kemajuan di laboratorium kesehatan yang dimiliki Pemprov Kaltim. PCR melengkapi laboratorium bio molekuker untuk pemeriksaan virus corona, sehingga bisa mempercepat pekerjaan-pekerjaan dalam pemeriksaan kesehatan penanganan COVID-19.

Menurutnya keberadaan alat kesehatan  tersebut dapat mendukung analisis proses pertumbuhan, perkembangan, penyebaran, pelandaian bahkan penurunan angka penularan dan penderita COVID-19  dapat terpantau secara baik.

Selama ini, lanjut Hadi, pemeriksaan swab dari para pasien terduga COVID-19 di Kaltim masih harus dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Jawa Timur, yang memerlukan waktu lama dan biaya cukup besar. Dengan adanya laboratorium ini, pemeriksaan terkait Corona jadi lebih efektif.

“Jadi secara efektivitasnya atau model matematisnya tidak tepat, sebab cost dan ada jeda waktu. Itulah kita harus mensyukuri alat ini. Selain waktu dan biaya, juga bisa digunakan deteksi penyakit lain serta dimanfaatkan jangka waktu lama,” jelasnya.

Difungsikannya alat ini pula, kata Hadi, membantu Pemprov dalam mengetahui apakah kasus Corona di Kaltim menurun atau tidak. Pasalnya, dalam waktu satu hari saja seluruh hasil swab sudah bisa diketahui.

“Apakah kasus memang melandai atau tidak, bisa kita ketahui segera. Sebab, hari ini diuji, besok hasilnya sudah bisa kita ketahui. Sehingga perkembangan COVID-19 dapat segera kita ketahui,” urai Hadi. (Antara)

More Stories
Covid-19 Bikin Industri Hotel dan UMKM di Kaltim Terseok-seok