Jualan Ayam Serondeng, Petani Milenial di Samarinda Ini Bermozet Rp 120 Juta per Bulan

Petani milenial asal Kalimantan Timur, Muhammad Padil yang sukses berjualan Ayam Serondeng. (Dok/pribadi)

DI TIAP kesempatan, Kementerian Pertanian selalu mendorong semangat generasi milenial untuk menumbuhkan usaha agribisnis di Indonesia. Apalagi, sektor pertanian merupakan bidang usaha yang sangat prospektif. Petani milenial asal Kalimantan Timur, Muhammad Padil, membuktikan hal tersebut.

Muhammad Padil termasuk dalam petani milenial yang terbilang sukses. Petani milenial asal Samarinda, Kalimantan Timur, adalah satu dari 67 orang petani milenial yang dikukuhkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), 13 April 2020 lalu, sebagai Duta Pertanian Milenial dan Duta Petani Andalan.

Pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan, 29 tahun silam ini, mempunyai usaha kuliner ayam olahan dengan nama Ayam Serondeng Kampus dan olahan singkong serta nugget singkong di Samarinda.  Padil, panggilan akrabnya, bercerita awal memulai terjun ke dunia usaha warung makan ayam serondeng. 

“Saat itu ia hanya berpikir bagaimana enaknya menjadi seorang bos,  selain itu tentu faktor keadaan yang membuat dirinya harus memiliki usaha,” ujar Padil, Jumat (8/5).

Padil menuturkan, dirinya cukup aktif di beberapa lembaga. Bahkan, ia menduduki posisi sebagai ketua, seperti gerakan ekonomi kreatif dan beberapa lembaga lainnya. Pria yang memiliki gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Mulawarman ini juga mengaku masih meneruskan kuliahnya untuk mengambil gelar Master (S2).

Dalam menjalankan usahanya, Padil menggandeng perusahaan yang bergerak di bidang transportasi online nasional, seperti Grab dan Gojek. “Kalau mau pesan menu makanan kami, silahkan cek di aplikasi online, Ayam Serondeng Kampus pasti ada. Kami juga sediakan jasa pemesanan melalui aplikasi SMSKurir,” tutur Padil.

Dengan modal awal dari hasil dia bekerja dan beberapa pinjaman, saat ini Ayam Sarondeng Kampus telah memiliki cabang di Tenggarong. “Omzet di masing-masing toko mencapai Rp 60 juta per bulan,” ujarnya.

Kepada generasi milenial lainnya, Padil  menyampaikan pesan untuk menghabiskan masa kegagalan agar masa kesuksesan segera datang. “Saya yakin bahwa semua orang  pasti gagal. Tapi saya juga sangat yakin semua orang pasti sukses. Mulailah bergerak maju. Dan awalilah dengan langkah pertamamu menuju kesuksesan yang akan kita raih,” kata Padil memotivasi.

Sementara itu Mentan SYL berharap generasi milenial tampil sebagai yang terdepan dalam sektor pertanian di Tanah Air. Kata dia, kini saatnya yang muda yang menguasai teknologi jadi penggerak sektor pertanian. Didukung teknologi modern, maka dunia dalam genggaman.

“Saya makin percaya anak muda yang terjun di bidang pertanian punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik,” ucap Mentan SYL.

SYL mengungkapkan, kini banyak petani milenial yang sukses menjadi pengusaha di berbagai sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir. Ini bukti bahwa pertanian merupakan sektor usaha yang sangat menjanjikan untuk masa depan.

Terkait hal ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi menambahkan, peningkatan jumlah petani pengusaha milenial sebagai upaya Kementan untuk mempercepat regenerasi petani.

“Turunnya jumlah petani berusia muda akan menimbulkan krisis petani. Oleh karenanya, regenerasi petani mutlak dilakukan karena mereka akan berperan sangat strategis dalam pembangunan pertanian Indonesia ke depan, di era modern. Mereka dipastikan melek teknologi dan cerdas,“ kata Dedi Nursyamsi. (gr/id)

More Stories
Kaltim Memperpanjang Status KLB sampai Agustus