BONTANG, Pranala.co — Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, digegarkan temuan miris saat meninjau program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Bontang Lestari, Jumat (27/3/2026). Di balik pemukiman padat, ia menemukan seorang anak yang telah putus sekolah selama dua tahun karena kendala literasi dasar.
Kasus tersebut ditemukan di RT 08, Jalan Linmas 2. Anak berusia sekitar 10 tahun itu terpaksa meninggalkan bangku sekolah sejak duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD). Orang tuanya memutuskan menghentikan pendidikan anak dengan alasan anaknya dinilai belum mampu membaca, sehingga tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut.
“Kondisinya memprihatinkan. Anak tersebut sudah lama tidak bersekolah dan hanya menghabiskan waktu di rumah bermain gawai,” ujar Neni Moernaeni usai meninjau lokasi.
Menanggapi temuan itu, Wali Kota Neni langsung memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang untuk segera menangani kasus tersebut. Ia menekankan bahwa penanganan harus bersifat darurat mengingat anak telah kehilangan waktu belajar yang cukup lama.
“Ini cukup mengejutkan, ada dua anak dalam kondisi serupa. Ayo OPD segera ditangani. Beruntung saya turun langsung ke lokasi sehingga mengetahui kondisi nyatanya,” tegasnya.
Neni menegaskan ironi yang terjadi di wilayahnya. Meski secara kebijakan Pemerintah Kota Bontang telah mewajibkan seluruh anak menempuh pendidikan hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat—bahkan mendorong melanjutkan ke perguruan tinggi—fakta di lapangan menunjukkan masih ada anak yang terlepas dari jaring pengaman pendidikan.
Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan. Keterbatasan ekonomi yang menjadi alasan orang tua tinggal di RTLH, menurutnya, seharusnya tidak diperparah dengan absennya akses pendidikan bagi generasi muda.
Untuk mencegah kasus serupa, Pemkot Bontang berencana menggandeng berbagai organisasi lintas sektor serta relawan pendidikan. Langkah ini diambil untuk memberikan pendampingan belajar intensif kepada anak-anak yang mengalami kesulitan literasi maupun numerasi.
“Semua difasilitasi oleh pemerintah. Mulai dari seragam, buku, hingga beasiswa tersedia. Orang tua juga seharusnya lebih peduli terhadap masa depan anak, bukan malah menyerah begitu saja menghadapi kendala belajar,” tutur Neni. (ADS/BTG)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















