Pranala.co, SAMARINDA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) kini menghadapi ujian berat saat memasuki bulan suci Ramadan. Sebagai program perdana yang digulirkan tahun ini, MBG diharapkan menjadi solusi pemenuhan nutrisi siswa. Namun, berbagai dinamika operasional mulai terkuak, menggoyahkan optimisme awal pelaksanaannya.
Evaluasi ketat kini diarahkan pada tiga pilar utama: konsistensi kualitas paket makanan, ketepatan waktu distribusi, dan kesesuaian menu dengan selera anak-anak. Tanpa perbaikan di ketiga sektor ini, program berisiko hanya menjadi seremoni belaka tanpa dampak nyata pada kesehatan siswa.
Abdul Fajar, Ketua Person in Charge (PIC) MBG SD Negeri 003 Sungai Kunjang, menegaskan bahwa transparansi anggaran sebesar Rp15.000 per porsi seharusnya mampu menghadirkan menu yang lebih variatif dan berkualitas.
Namun kenyataan di lapangan belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Salah satu keluhan utama muncul terkait ketersediaan susu—komoditas yang sangat diminati siswa namun sempat mengalami kekosongan stok.
“Terkait susu, saya sempat langsung menghubungi pihak pengelola dan menanyakan kenapa susu tidak ada, alasannya karena stok. Menurut saya, kalau memang kendalanya stok, seharusnya bisa disiapkan lebih awal atau diganti dengan alternatif lain agar hak anak-anak tetap terpenuhi,” ujar Abdul Fajar kepada media, Selasa, 24 Februari 2026.
Penurunan variasi menu selama Ramadan menjadi sorotan tajam. Abdul Fajar membandingkan kondisi saat ini dengan periode sebelumnya yang jauh lebih lengkap secara nutrisi. Lebih dari itu, ia mengkritik kesesuaian menu dengan lidah lokal.
“Kalau bicara soal menu seperti spaghetti, itu identik dengan lidah orang luar, sementara anak-anak kita belum tentu terbiasa. Dibandingkan spaghetti goreng, mereka jauh lebih suka mi ayam karena saat menu itu tersedia, anak-anak makan dengan sangat lahap,” jelasnya.
Masalah tidak berhenti di menu. Ketepatan waktu pengantaran menjadi catatan kritis lainnya. Abdul Fajar menyayangkan adanya keterlambatan yang terkadang mencapai lebih dari satu jam dari jadwal yang disepakati.
“Harapan kami, kalau memang disepakati jam 08.00, ya datang tepat waktu, karena kalau sudah lewat jam 10.00, jadwal belajar juga terganggu dan ini tentu menjadi catatan evaluasi kami bersama,” ungkapnya.
Keterlambatan signifikan ini dinilai dapat mengganggu ritme kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Seminggu setelah kritikan tersebut disampaikan, Wakil Ketua PIC MBG SDN 003, Evie Liestiane, mengakui adanya dinamika dalam pelaksanaan program. Ia mencatat keresahan wali murid terkait kelengkapan paket makanan, khususnya susu yang sempat menghilang beberapa hari.
“Guru juga, orang tua juga, dan anak-anak berharap ada susu karena itu yang paling mereka sukai. Jadi kami sampaikan saran kepada pengelola kalau bisa susu tetap ada, dan akhirnya sekarang mulai masuk lagi secara rutin,” kata Evie saat ditemui media Senin, 2 Maret 2026.
Evie juga memberikan masukan agar penyajian protein dilakukan dengan cara yang lebih menarik agar siswa tidak merasa bosan.
“Kami beri saran: tolong telur jangan dimasak mata sapi terus, anak-anak kurang suka. Coba didadar, namun jangan dikukus karena anak-anak juga kurang suka rasa yang dikukus saja. Intinya agar anak-anak lebih semangat untuk makan,” tuturnya.
Selain itu, Evie berharap kualitas menu selama Ramadan bisa setara dengan hari-hari biasa. “Kalau bisa ya ditingkatkan, jangan cuma susu dan roti saja, tapi dalamnya dibuat lebih menarik buat anak-anak agar gizinya tetap sesuai dengan kualitas sebelum bulan puasa,” jelasnya.
Pihak sekolah menegaskan komitmennya untuk terus bersikap objektif dalam memberikan penilaian harian melalui formulir evaluasi yang disediakan.
“Melalui berbagai masukan dari guru dan orang tua, diharapkan pihak pengelola MBG dapat segera melakukan perbaikan kualitas, sehingga program yang direncanakan berkelanjutan ini dapat berjalan lebih maksimal di masa mendatang,” pungkas Evie. (TIA)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















