SETELAH sempat berhenti hampir sebulan, 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kutai Timur (Kutim) kembali beroperasi dalam sepekan terakhir. Penghentian sebelumnya dipicu evaluasi pengelolaan limbah, sementara satu dapur di Swarga Bara masih belum diizinkan buka.
Dari total 12 dapur yang disuspensi sejak awal April 2026, sebagian besar telah menuntaskan perbaikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Perbaikan itu menjadi syarat utama pencabutan penghentian operasional.
Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kutai Timur, Trisno, memastikan pembukaan dilakukan bertahap setelah dapur dinilai memenuhi standar.
“Sebanyak 11 dapur sudah kembali berjalan, sementara satu lainnya masih dalam proses penyesuaian,” kata dia saat dikonfirmasi.
Dapur yang masih tertahan berada di wilayah Swarga Bara. Hingga kini, pengelola disebut masih menyempurnakan sistem IPAL agar sesuai ketentuan.
“Yang di Swarga Bara masih berproses, fokus pada penyempurnaan IPAL,” ujar Trisno kepada Pranala.co.
Penghentian operasional sebelumnya merujuk pada evaluasi Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam pemeriksaan tersebut, sejumlah dapur dinilai belum memenuhi standar pengelolaan limbah, terutama pada aspek pengolahan air buangan.
Di lapangan, proses penanganan tidak sepenuhnya mulus. Trisno, yang juga Wakil Kepala Satgas, mengakui sempat ada hambatan karena belum jelasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah. Akibatnya, langkah korektif di awal berjalan lebih lambat dari kebutuhan.
Persoalan lain muncul dari belum adanya petunjuk teknis rinci terkait standar IPAL dari BGN. Sejumlah dapur sebelumnya membangun sistem limbah berdasarkan pemahaman masing-masing, yang kemudian berujung pada hasil evaluasi yang tidak seragam.
Untuk mempercepat pemulihan layanan, Satgas Kutai Timur akhirnya menggunakan standar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebagai acuan sementara. Langkah ini dinilai mempercepat perbaikan tanpa menunggu kepastian teknis dari pusat. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















