MENGIRIM bahan pokok ke wilayah pedesaan dan daerah terpencil di Kutai Timur (Kutim) bukan perkara mudah. Rantai distribusi yang panjang kerap membuat harga sembako melambung tinggi, mencekik dompet warga pinggiran.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur alias Pemkab Kutim bergerak memotong jalur logistik tersebut. Lewat Program Koperasi Merah Putih (KMP), pemkab berusaha menghadirkan keadilan harga pangan bagi masyarakat di pelosok desa.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan komitmennya untuk mempercepat realisasi program strategis ini. Targetnya, mendekatkan kebutuhan dasar ke halaman rumah warga dengan harga yang jauh lebih murah.
“Program ini menjadi solusi untuk memperpendek rantai distribusi. Kita ingin memastikan masyarakat, terutama di wilayah terpencil, memperoleh kebutuhan dasar dengan harga murah dan mudah dijangkau,” ujar Ardiansyah saat Rapat Forkopimda di Markas Kodim 0909/KTM, Senin (15/6/2026).
Ardiansyah menjelaskan, gerai ini nantinya tidak hanya menjual beras atau minyak goreng. Masyarakat bisa mengakses obat-obatan hingga tabung LPG tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota.
Hingga pertengahan tahun ini, progres di lapangan terus menunjukkan tren positif. Dari total target 116 gerai Koperasi Merah Putih yang direncanakan mengepung wilayah Kutim, sebanyak 17 gerai sudah berdiri kokoh.
Pemerintah daerah kini sedang mematangkan persiapan akhir. Seluruh gerai yang rampung ditargetkan bisa beroperasi serentak begitu instruksi dari pemerintah pusat turun.
Di balik ambisi mengejar target pembangunan, Ardiansyah menunjukkan sisi humanisnya dalam memimpin. Ia memilih mengalah dan mendengarkan keluh kesah pedagang kecil di perkotaan.
Rencana pembangunan gerai di Kelurahan Teluk Lingga terpaksa dirombak total. Lokasi awal dibatalkan setelah menerima gelombang masukan dan penolakan dari para pedagang di pasar induk setempat.
Bupati tak ingin kehadiran program pemerintah justru mematikan piring nasi pedagang lokal yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di sana. Tensi sosial diredam dengan dialog yang elegan.
“Untuk Kelurahan Teluk Lingga dan Singa Geweh, kami masih menunggu penetapan lokasi baru. Kita pindahkan agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi pedagang pasar,” ungkap Ardiansyah.
Ekonomi pedesaan Kutim diharapkan berputar lebih cepat. Melalui 116 titik gerai ini, rantai kemiskinan di wilayah terisolasi perlahan dikikis lewat ketersediaan pangan yang murah dan merata. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















